Hubungan Antar Suku Bangsa: Review Film Hotel Rwanda

Hubungan Antar Suku Bangsa: Review Film Hotel Rwanda

Pendahuluan

Peta Negara Rwanda, Afrika

Peta Negara Rwanda, Afrika

Pertikaian antar-suku di Rwanda pada era 1990-an merupakan salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Afrika. Pertikaian tersebut merupakan akumulasi dari hubungan tak harmonis bagi warga suku Hutu sebagai mayoritas dengan suku Tutsi sebagai minoritas, khususnya, sejak negera tersebut terlepas dari masa penjajahan Belgia. Film Hotel Rwanda mencoba mengangkat peristiwa tersebut lewat kehidupan nyata seorang manajer hotel bernama Paul Rusesabagina saat negaranya, Rwanda, dilanda pertikaian suku Hutu melawan Tutsi, yang mengarah pada pembersihan etnis (genocide) dan menelan korban hingga ratusan ribu jiwa hanya dalam tempo yang relatif singkat.

Kisah Hotel Rwanda dibuka dengan suasana di Kigali, Rwanda, 1994, hari itu, Paul Rusesabagina (Don Cheadle) seperti biasa menjalankan rutinitasnya sebagai manajer salah satu hotel terbaik di Rwanda, Hotel Des Miles Colines yang dihuni banyak warga asing, mulai belanja keperluan hotel, mendatangi suplier, pejabat, hingga menyapa para tamu. Paul Rusesabagina adalah seorang Hutu namun istrinya, Tatiana (Sophie Okonedo) adalah seorang Tutsi. Pernikahannya menjadikannya penghianat bagi ekstrimis Hutu. George Rutaganda, seorang kenalan baik dan penyalur kebutuhan hotel yang juga merupakan pemimpin dari Interahamwe, milisi brutal yang anti Tutsi, gagal membujuk Paul untuk bergabung ke dalam kelompoknya di bagian awal dari film ini.

Pada saat yang sama, televisi memberitakan adanya upaya perdamaian yang diprakarsai PBB antara pemerintah yang diwakili presiden yang berasal dari suku Hutu dan pimpinan pemberontak dari suku Tutsi. Upaya ini mulai membuahkan hasil saat presiden dan pimpinan pemberontak sepakat untuk melakukan gencatan bersenjata dan menandatangani perjanjian damai. Namun, belum lagi perjanjian damai ditandatangani, sang presiden terbunuh dan dikabarkan pembunuh adalah pemberontak Tutsi.

Peristiwa ini langsung berdampak pada setiap orang yang tinggal di Rwanda. Tak terkecuali, pada Paul Rusesabagina yang asli Hutu dan tak suka politik menyusul upaya balas dendam dari warga Hutu lewat kaum milisinya yang bernama Interhamwe terhadap seluruh warga Rwanda yang berasal dari suku Tutsi. Upaya balas dendam ini berbentuk pembunuhan besar-besaran terhadap warga Rwanda bersuku Tutsi dan setiap orang yang dianggap berkomplot dengan mereka. Aksi ini tak bisa dicegah aparat keamanan Rwanda yang dipimpin jenderal Augustin Bizimungo (Fana Mokoena) yang cenderung memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.

Sementara itu, pasukan perdamaian PBB yang dipimpin kolonel Oliver (Nick Nolte) yang sebelumnya mulai berhasil menengahi pertikaian pun tak bisa berbuat banyak. Selain dikarenakan anggota pasukan yang semakin sedikit, perhatian serta dukungan dunia terhadap konflik Rwanda pun cenderung surut. Hal ini ditandai dari penarikan pasukan ke perbatasan dan pengiriman pasukan internasional yang hanya mengamankan dan memulangkan para warga asing di Rwanda, termasuk para jurnalis, sedangkan warga asli Rwanda dibiarkan walaupun kematian mendekati mereka. Kondisi ini membuat Paul Rusesabagina resah. Dengan berbagai cara, ia segera mengungsikan keluarga dan tetangganya baik yang berasal dari Hutu maupun Tutsi ke hotel tempatnya bekerja. Bahkan, tak lama, tak hanya keluarga dan tetangga yang berada di hotel ini, tapi juga ratusan warga lain yang mengungsi ke hotel tersebut karena mereka anggap tak ada lagi tempat yang aman.

Di sela-sela upaya menampung pengungsi, Paul Rusesabagina yang mendapat mandat dari sang pemilik untuk menjaga hotel masih memperhatikan bahwasanya Hotel Des Miles Colines tetap merupakan sebuah hotel berkelas. Artinya, pelayanan kelas hotel diberikan semaksimal mungkin dan dia tak ragu menarik tagihan untuk warga mampu yang mengungsi. Untuk menjaga keamananan, Paul Rusesabagina berulangkali mengakali dan menyuap jenderal Augustin Bizimungo untuk menempatkan aparatnya melindungi hotel setelah kolonel Oliver dan segelintir anak buahnya dari pasukan PBB ditempatkan di perbatasan Rwanda.

Di tengah pertikaian sengit antara kelompok Tutsi dan Hutu, Paul Rusesabagina, seorang manajer hotel yang dengan berani menyelamatkan lebih dari 1200 pengungsi dari pembantaian. Kepahlawanan mendadak Paul yang bisa dibilang jarang dan mungkin tak akan dilakukan banyak orang di tengah kemelut dan bahaya yang tentu lebih memilih menyelamatkan dirinya sendiri berawal saat konflik antara Tutsi dan Hutu memanas. Perdamaian yang digelar dengan mediasi PBB gagal, dan Hutu justru memanfaatkan momen tersebut untuk membunuh Presiden Habyarimana yang sebelumnya telah menandatangani perjanjian damai.

Poster Film Hotel Rwanda (2004)

Poster Film Hotel Rwanda (2004)

Setelah terbunuhnya presiden Habyarimana kelompok Hutu pun memberontak dan merencanakan genosida atas kelompok Tutsi. Saat itu kota Rwanda benar-benar mencekam, semua orang yang memegang KTP Tutsi akan langsung disiksa, diperkosa, dan berakhir dengan kematian. Keadaan tersebut membuat Rwanda siaga satu. Turis asing panik, warga Tutsi yang ketakutan banyak mengungsi ke hotel yang dijaga pasukan PBB. Di tengah-tengah krisis, Paul diminta untuk menghibur dan menenangkan penghuni hotel, dan juga terpanggil menyelamatkan nyawa ribuan warga Tutsi. Paul juga harus menyelamatkan istrinya yang merupakan keturunan Tutsi, dan juga beberapa tetangganya.

Berhasil menyelamatkan tetangga dan istrinya, Paul dihadapkan pada ribuan pengungsi yang memohon pada Paul untuk diizinkan tinggal di hotel, tempat yang dinilai warga Tutsi sebagai tempat teraman menyelamatkan nyawa mereka. Pada malam pembantaian, tetangga dan keluarga Paul sangat berharap padanya supaya dapat selamat. Kepemimpinan, kecerdikan dan penyuapan, membuat Paul dapat menyelamatkan keluarga dan tetangganya dari mafia Hutu bersenjata yang bertujuan menghabisi semua suku Tutsi. Setelah tawar menawar dengan seorang petugas militer Rwanda untuk keselamatan keluarga dan teman, Paul membawa mereka ke hotelnya. Makin banyak pengungsi membanjiri hotelnya dikarenakan kamp pengungsian PBB sangat berbahaya dan terlalu penuh pada saat itu. Hotel pun menjadi penuh sesak, Paul mesti berusaha menghalihkan tentara Hutu, peduli terhadap pengungsi, dan menjaga popularitas hotel sebagai hotel high-class.

Penjaga perdamaian PBB, yang dipimpin oleh Kolonel Oliver tak dapat bertindak apapun melawan Interhamwe, disebabkan mereka dilarang untuk ikut campur dalam masalah pembantaian ini. Ketidak-berpihakan PBB terus berlanjut disamping juga kelelahan Oliver dalam menjaga pengungsi Tutsi dan kemarahannya yang mempertanyakan kekuatan barat yang tidak peduli terhadap Rwanda. Sewaktu Interhamwe mengepung hotel, Paul dan keluarganya mulai mengalami stress berat. Pasukan PBB berusaha mengevakuasi kelompok pengungsi, termasuk keluarga Paul. Namun malah berbalik kembali ke hotel, setelah di hadang oleh massa perusuh Hutu dan Interhamwe. Dalam usaha terakhir untuk menyelamatkan pengungsi, Paul berbicara kepada Jenderal Rwanda dan berusaha memerasnya dengan ancaman menjadikan sang jenderal penjahat perang. Bizimungu terpaksa setuju dan kembali ke hotel yang dalam keadaan diserang oleh perusuh dan Interhamwe. Tentara Bizimungu akhirnya dapat mengakhiri kekacauan dan Paul panik mulai mencari istri dan keluarganya, berpikir kalau mereka sudah bunuh diri seperti yang diperintahkan Paul apabila orang-orang Hutu dapat menyerang hotel. Setelah ketakutan setengah mati, Paul menemukan mereka bersembunyi di kamar mandi.

Keluarga dan para pengungsi akhirnya dapat keluar dari hotel dengan kawalan konvoi pasukan PBB. Mereka menempuh perjalanan melewati pengungsi Hutu dan milisi Interhamwe menuju ke belakang garis depan pihak pemberontak Tutsi. Di akhir cerita, Paul menemukan kedua keponakannya yangg masih kecil, yang keberadaan orang tuanya tidak diketahui, dan mengajak mereka dengan keluarganya keluar dari Rwanda.

Lewat Hotel Rwanda (2004), sutradara Terry George berupaya menampilkan konflik suku di Rwanda dengan utuh, mulai konflik politik hingga personal. Konflik ditata dengan apik dan diikuti sejumlah pertanyaan yang bisa menjaga keingintahuan penonton hingga ke akhir cerita. Dalam film ini, penonton pun dapat merasakan elemen lengkap sebuah cerita, aksi kekerasan, ketegangan, kesedihan, dan kegembiraan. Elemen-elemen ini ditata dengan apik sehingga bisa membawa perasaan penonton.

Perang saudara di Rwanda, adalah akibat api dalam sekam yang diciptakan ex-penjajah Belgia yang memanfaatkan hubungan tak harmonis antara suku Hutu dan suku Tutsi, yang mengarah pada pembersihan etnis (genocide). Pertikaian kedua suku ini sudah ada sejak lama, dan pertikaian itu sepertinya ‘dibina’ mirip dengan cara-cara Belanda dengan politik devide et impera. Pada masa penjajahan Pemerintah Belgia berpihak pada suku minoritas Tutsi, tetapi pada saat kemerdekaan justru kekuasaan diberikan pada suku Hutu. Bisa dibayangkan bahwa hal itu akan menjadi sesuatu yang potensial bagi suku Hutu untuk balas dendam pada suku Tutsi yang selama masa kolonialisme mendapat banyak kemudahan/ keuntungan yang tidak didapat oleh suku Hutu. Api dalam sekam itu telah membesar, dan menjadi perang saudara yang sangat mengerikan. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s