Kebudayaan dan Discourse

Kebudayaan dan Discourse

Saat ini pembahasan analisa diskursus atau wacana telah melampaui pakem-pakem linguistik konvensional, yang hanya berkutat dengan text dan talk serta tidak melibatkan faktor-faktor sosio-politis dan ideologis. Pengaruh kajian Post-Struktural dan Teori Kritis terhadap dunia pemikiran telah membentuk mahzab baru di dunia ilmu pengetahuan, termasuk linguistik yang saat ini telah berkembang menjadi Linguistik Kritis, fokusnya adalah Analisa Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) yang dikembangkan oleh Norman Fairclough, Teun Van Djik, dan lain-lain. Disamping itu, sumbangsih Foucault dalam analisa wacana juga sangat signifikan, dimana Foucault telah memulai analisa wacana atau diskursus yang bersifat politis dan ideologis sebelum orang lain memikirkannya, hal ini adalah semacam gebrakan dalam dunia pemikiran. Selanjutnya, dalam pandangan strategi Dekonstruksi (Borradori), analisa wacana adalah salah satu aspek yang sangat menentukan, karakteristik dekonstruksi yang tanpa batas membuka peluang analisa terhadap aspek-aspek kontradiktif dan tersembunyi dalam beragam konstruksi wacana.

Wacana (Discourse)

Michel Foucault menjelaskan definisi fenomenal dari wacana beserta dengan potensi politis dan kaitannya dengan kekuasaan, yaitu diskursus atau wacana adalah elemen taktis yang beroperasi dalam kancah relasi kekuasaan. Antara wacana dan kekuasaan memiliki hubungan timbal balik, seperti yang dikatakan Faucoult, ‘Elemen Taktis’ ini sangat terkait dengan kajian strategis dan politis, tapi tentu saja istilah politik disini tidak selalu berarti faktor-faktor pemerintahan, segala sesuatu yang meng-hegemoni baik itu secara kultural maupun secara ideologis sebenarnya memiliki konstruksi politisnya sendiri. Dari definisi yang diberikan Foucault, terungkap bahwa wacana adalah alat bagi kepentingan  kekuasaan, hegemoni, dominasi budaya dan ilmu pengetahuan. Distribusi wacana ketengah masyarakat pada era post-moderen ini, dilaksanakan secara strategis melalui media, baik itu media cetak maupun elektronik.

Selanjutnya Michel Foucault kembali menambahkan bahwa wacana atau diskursus sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh sebagian orang, dimana keberagaman wacana masih dianggap terikat oleh kelas-kelas tertentu dalam masyarakat. Kita seharusnya tidak menganggap dunia wacana itu terpisah-pisah antara wacana  mana yang diterima secara sosial dan mana yang ditolak, atau pengkelasan wacana seperti ada wacana dominan dan ada pula wacana yang termarginalkan, akan tetapi sebenarnya segala bentuk kompleksitas wacana atau diskursus adalah merupakan elemen-elemen yang sering dibicarakan dan sering muncul dalam kehidupan, dimana itu semua bermain secara strategis. Disini Foucault menjabarkan bahwa keseluruhan diskursus memiliki potensi strategis, baik itu wacana dominan maupun yang tidak. Bahkan Foucault juga mencoba mengeliminir pengkelasan diskursus ini. Hal itu disebabkan karena setiap wacana atau diskursus bisa bermain secara strategis, berdasarkan kepentingan tertentu.

Discourse dalam Kapitalisme

Wacana secara sosial didistribusikan ke tengah masyakat, dan wacana-wacana tersebut membawa beragam ideologi, pada akhirnya bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat yang menjadi objek dari proses penyebaran wacana itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat bagaimana iklan-iklan dari produk pemutih kulit membawa ideologi rasisme, yaitu putih itu cantik, baik, sehat, dan bagus, sedangkan kulit tidak putih (coklat, sawo matang, hitam) itu jelek, buruk dan tidak sepantasnya ada seorang wanita berkulit hitam. Dalam hal ini, peranan iklan produk pemutih tersebut secara strategis adalah untuk mempenetrasikan ideologi rasisme, sehingga akan membentuk opini publik. Opini publik yang sesuai dengan ideologi rasisme itu, akan menguntungkan produsen produk pemutih kulit. Padahal konsep cantik atau jelek itu secara kontekstual jelas adalah sangat relatif. Akan tetapi hal ini sepertinya disembunyikan oleh iklan-iklan tersebut, disinilah strategi produsen kosmetik (agen kapitalisme) dalam memainkan wacana.

Foucault menegaskan bahwa distribusi wacana atau diskursus adalah hal yang harus kita kaji ulang, terutama terkait dengan hal-hal yang disampaikan dan hal-hal yang disembunyikan. Dalam pembahasan Critical Discourse Analysis, atau disebut juga Analisa Wacana Kritis, Teun Van Djik menjelaskan dasar teorinya yang lebih terfokus pada upaya untuk menggali peranan dan fungsi diskursus, dalam proses produksi kekuasaan tertentu: Salah satu dasar pemikiran dari Critical Discourse Analysis adalah memahami sifat-sifat kekuasaan (hegemoni) atau pengaruh sosial, serta dominasinya. Ketika kita telah memiliki pemahaman terhadap hal tersebut, maka saatnya untuk memformulasikan ide-ide tentang bagaimana diskursus atau wacana berperan dalam reproduksi kekuasaan dan dominasi tersebut.

Sebenarnya kita bisa melihat banyak kesamaan antara kajian Analisa Wacana Kritis dengan New Functionalism, disini Van Djik menetapkan fokus kajiannya pada peranan strategis wacana dalam proses distribusi dan reproduksi pengaruh hegemoni atau kekuasaan tertentu. Terkait dengan hal ini, kita bisa melihat contoh wacana rasisme yang dibawa iklan produk pemutih kulit, dalam hal ini iklan-iklan tersebut berperan dalam melestarikan hegemoni kapitalisme. Salah satu elemen penting dalam proses analisa terhadap relasi kekuasaan (hegemoni) dengan wacana adalah pola-pola akses terhadap wacana publik yang tertuju pada kelompok-kelompok masyarakat. Secara teoritis bisa dikatakan, supaya relasi antara suatu hegemoni dengan wacana bisa terlihat dengan jelas, maka kita membutuhkan hubungan kognitif dari bentuk-bentuk  masyarakat, ilmu pengetahuan, ideologi dan beragam representasi sosial lain yang terkait dengan pola pikir sosial, hal ini juga mengaitkan individu dengan masyarakat, serta struktur sosial mikro dengan makro.

Berdasarkan kutipan diatas, Van Djik menjelaskan bahwa teori Analisa Wacana Kritis memiliki aspek pembahasan yang sangat luas, seperti model-model masyarakat dan pola pikirnya, ideologi masyarakat, nilai-nilai social, dan lain-lain. Semua itu difokuskan pada satu kerangka pokok kajian, yaitu relasi antara wacana (diskursus) dan kekuasaan (hegemoni). Beragam representasi sosial adalah menjadi target bagi sebuah wacana yang digerakkan oleh suatu hegemoni tertentu, contohnya seperti kapitalisme, kekuasaan politik pemerintah, penetrasi ideologi, serta berbagai bentuk ilmu pengetahuan. Dalam hal ini wacana menjadi alat kepentingan yang berujung pada pelestarian suatu dominasi. Tujuan penggunaan wacana bagi suatu kekuasaan adalah untuk mempengaruhi objek yang dikuasai. Setiap wacana membawa ideologi, pada akhirnya wacana akan berperan sebagai distributor ideologi tersebut, selanjutnya ideologi itu akan mempengaruhi beragam bentuk representasi sosial dalam masyarakat.

Wacana-wacana yang dimotori oleh kekuasaan tertentu berpeluang membentuk ketidaksetaraan atau ketidakadilan sosial. Contoh yang paling sederhana bisa kita lihat pada iklan produk kosmetik pemutih kulit yang telah saya singgung diatas. Dimana kekuasaan kapitalisme produsen produk ini, telah menciptakan wacana rasisme melalui iklan yang dipasang pada media elektronik dan media cetak, kemudian wacana tersebut berpotensi membentuk ideologi sosial masyarakat yang nantinya berujung pada ketidaksetaraan sosial, yaitu orang berkulit putih memiliki kelas yang lebih tinggi dan lebih baik dari orang berkulit tidak putih. Kembali lagi ke contoh yang paling simpel tadi, yaitu iklan pemutih kulit diatas. Sebagai sebuah konstruksi wacana, iklan ini memiliki kontradiksi internal yang tidak kentara, yaitu tentang relativitas konsep cantik. Konstruksi wacana iklan ini membawa ideologi rasis, bahwa wanita berkulit putih itu cantik sedangkan wanita berkulit tidak putih itu jelek, disinilah letak kontradiksi itu, dimana konsep putih itu cantik hanyalah berdasarkan pada konvensi kultural masyarakat Indonesia, tidak untuk seluruh masyarakat dunia.

Cantik antara hitam dan putih

Cantik antara hitam dan putih

Pada kultur masyarakat barat konsep cantiknya justru mengacu pada warna kulit sawo matang ala masyarakat Indonesia, mereka menganggap warna kulit orang Indonesia itu eksotis, hal ini terbukti ketika mereka berupaya menggelapkan warna kulitnya dengan berjemur dipantai dan mengoleskan krim pencoklat. Atau Jenifer Lopez yang dinobatkan sebagai wanita tercantik oleh salah satu majalah di Amerika Serikat karena kulitnya yang coklat. Ironis, masyarakat kita mengoleskan krim pemutih, sedangkan masyarakat barat mengoleskan krim pencoklat. Ini membuktikan bahwa, konsep ‘warna kulit tidak putih itu jelek’ sama sekali salah, dalam kultur barat justru itu yang cantik. Disinilah letak relativitas konsep cantik yang menjadi kontradiksi internal dalam konstruksi wacana rasis iklan produk kosmetik pemutih kulit. Wacana kulit putih itu cantik adalah semacam strategi untuk mendongkrak penjualan produk kosmetik, wacana ini tidak berdasarkan pada realitas universal, tetapi hanya memanfaatkan konvensi kultural sepihak masyarakat Indonesia.

Berdasarkan pembahasan diatas, terlihat jelas bahwa relasi antara wacana dan kekuasaan berada dalam ruang lingkup permainan strategis.

(Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s