Tubuh (Body) dalam Kajian Antropologi

Sejak awal abad ke-19, tubuh manusia sudah menjadi aspek yang penting dalam kajian antropologi. Ada empat alasan mengapa tubuh memiliki posisi yang penting dalam antropologi, yaitu:

1)      Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral.

2)      Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?

3)      Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial), yang memberi kontribusi pada studi tubuh.

4)      Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius.

Kajian antropologi terhadap tubuh diawali dengan ketertarikan Foucault, seorang teoritis berkebangsaan Perancis yang membangkitkan kembali minat ahli ilmu sosial untuk meneliti tubuh sebagai bidang kajian yang cukup penting. Setiap bagian tubuh memiliki biografinya sendiri-sendiri, memiliki sejarah kehidupan yang meliputi berbagai episode perubahan dan tindakan-tindakan yang pernah diambil untuk mengendalikan, mengatur, dan bahkan menertibkan setiap gerak-gerik tubuh. Tubuh dibentuk, dikendalikan, dan ditemukan oleh masyarakat. Sebagaimana dikatakan Shiliing (1993: 71), di mata Foucalt dan Goffman tubuh ditentukan oleh struktur sosial yang ada di luar jangkauan individu.

Tubuh manusia harus dapat dipahami sebagai konstruksi sosial yang berubah dan berbeda berdasarkan perbedaan ruang dan waktu. Manajemen dan pengendalian tubuh karenannya sangat terkait pada ukuran-ukuran atau standar nilai yang ada di dalam suatu masyarakat. Batas-batas apa saja yang dapat dilakukan seseorang untuk dapat membicarakan tentang tubuh dan apa saja yang dilakukan seseorang menyangkut dengan tubuhnya merupakan hal yang penting untuk pembahasan. Sebagaimana dikatakan Giddens (1984) dan Turner (1984), tubuh dianggap para ahli sebagai alat yang penting dalam identifikasi sosial. Bukan hanya keberadaan kita di suatu tempat ditentukan oleh ada tidaknya tubuh kita di tempat itu, tetapi juga ciri-ciri tubuh dapat menjadi alat penting di dalam menjelaskan keberadaan seseorang. Oleh karena itu, tubuh menjadi suatu kajian yang menarik bagi antropologi.

Melihat pada alasan ke empat, terkait munculnya hubungan antara tubuh dengan antropologi karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius, ini lah yang menarik untuk dijadikan pembahasan. Hanya dengan melihat tubuhnya saja seorang antropolog sudah dapat mengidentifikasi jenis kelamin dan gender apa yang dimiliki oleh seseorang yang sedang di teliti.

Dalam mengkaji tubuh yang dihubungkan dengan keberadaan manusia dan kebudayaannya, perempuan lah yang selalu menarik dan dijadikan objek kajian. Pengkategorian bentuk tubuh dengan gendernya ini lah yang dapat membantu seorang antropolog. Contohnya saja dalam melihat pola perilaku perempuan dalam bermasyarakat, seorang antropolog dapat melihatnya dari aspek tubuh.

Perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang memperhatikan kecantikan, selalu mengurus dirinya, melakukan perawatan tubuh, dan sebagainya, adalah penyebab dari tubuh perempuan itu sendiri. Tubuh yang ideal adalah bentuk tubuh yang baik di dalam konsep pemikiran masyarakat luas. Tubuh perempuan itu sendiri mengalami perkembangan dan perubahan sesuai zaman. Wanita yang cantik menurut pemikiran orang zaman sekarang adalah wanita yang putih, langsing, rambut hitam panjang, awet muda. Maka banyak bermunculan iklan obat pemutih, pelangsing, awet muda, dan sebagainya. Padahal cantik pada abad pertengahan adalah gemuk, misalnya Monalisa dan Cleopatra, karena pada masa itu tubuh yang gemuk melambangkan kesuburan dan status sosial yang berada. Maka muncullah budaya pemujaan tubuh dan muncul berbagai salon kecantikan dan beauty shop (bahkan sex-shop seperti di Belanda).

Konsepsi bentuk tubuh ideal yang berlaku dimasyarakat ini membuat perilaku perempuan dari masa ke masa pun berubah-ubah. Ada kalanya para perempuan berlomba-lomba membuat dirinya untuk terlihat berisi, lalu ada kalanya pula para perempuan berlomba-lomba untuk membuat dirinya sangat terlihat kurus. Pola tingkah laku perempuan yang berubah-ubah dan dapat dengan mudah dikendalikan ini membentuk gender pada perempuan. Terlihat bagaimana tubuh manusia, khususnya perempuan sangat berhubungan dan beririsan dengan gender perempuan itu sendiri. Antropolog jadi dengan mudahnya mengetahui bagaimana pembentukan pola pikir dan tingkah laku perempuan hanya dengan melihat perkembangan bentuk tubuh perempuan yang berlaku di masyarakat. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s