Simbol, Dunia Ruang dan Waktu Manusia

Simbol, Dunia Ruang dan Waktu Manusia

Ernst Cassier

            Johannes von Uexkull, seorang biolog, mengkritik prinsip biologi, yang menurutnya adalah sains yang harus dibangun melalui metode empiris, observasi, dan eksperimen. Dia adalah seorang vitalisme yang menekankan bahwa hidup tergantung pada individu. Menurutnya, setiap organisme merupakan mahluk monadis, yang memiliki pengalaman dan dunianya sendiri. Tak ada yang lebih tingggi maupun lebih rendah dalam bentuk-bentuk kehidupan. Binatang  memiliki  Merknetz (sistem efektor) dan Wirknetz (sistem reseptor) yang terkait sebagai lingkaran fungsional.

Pada manusia, selain reseptor dan efektor, terdapat sistem  .Reseptor merupakan jawaban langsung seketika diberikan kepada rangsang dari luar. Efektor adalah jawaban tersebut ditunda dahulu. Sedangkan simbolis, jawaban tersebut disela dan diperlambat oleh proses pemikiran yang lamban dan  rumit. Menurut Rousseau simbolis merupakan kemerosotan kodrat manusia. Menurutnya “orang yang bermenung adalah seekor binatang yang bejat.” Epiktetos sendiri menyatakan manusia hidup dalam emosi imajiner, bukanlah bendanya melainkan opini & angan-angan mengenai benda tersebut. Pendapat yang menyatakan manusia adalah animal rationale tidak menerangkan kodrat manusia secara empiris, maka lebih tepatnya adalah animal symbolicum. Misalnya bahasa yang sering diidentifikasikan dengan rasio, hanyalah pars pro toto saja, selain bahasa konseptual, ada bahasa emosional, disamping bahasa logis atau puitis.

Ciri khas manusia yaitu dengan pemikiran simbolis dan tingkah laku simbolis. Asal mula bahasa menjadi perdebatan metafisis, antara idealisme-materialisme, spiritualisme-naturalisme. Binatang kadangkala merespon secara tak langsung  (rangsang representatif), seperti pada kera-kera antropoid. Bahasa binatang, bertitik tolak pada definisi tuturan. Yang mendasar adalah bahasa emosi, seperti pada simpanse. Tingkah laku binatang ada pada sistem tanda, otomatisme; sedangkan manusia pada sistem simbol, melalui trial & error.

Simbolisme berkemungkinan untuk diterapkan secara umum, dari kenyataan bahwa setiap hal punya nama. Simbol manusia dicirikan oleh keanekaragaman, misalnya mengungkapkan sesuatu dengan berbagai bahasa & sifatnya luwes. Aspek lainnya yaitu munculnya ketergantungan pemikiran ralasional kepada pemikiran simbolis. Contohnya pada Laura Bridgman ketika menyebut mantan gurunya dari Nona Drew ke Nyonya Morton, individu yang sama dalam relasi yang baru.

Untuk menangkap makna tidak lagi tergantung pada data inderawi, tapi bisa secara spasial. Binatang dapat melakukan isolasi-faktor perseptual, misalnya simpanse dalam memilih 2 relasi atau lebih. Herder menolak tesis metafisis yang menganggap asal-usul bahasa  bersifat ilahi atau adikrodati, karena tuturan bukan suatu objek atau benda fisis yang dapat ditelusuri secara alami, melainkan suatu proses, suatu fungsi umum dari pikiran manusia. Menurutnya, refleksi adalah kemampuan manusia untuk memilih beberapa unsur tertentu dari kesuluruhan arus gejala inderawi yang belum dibeda-bedakan, unsur-unsur itu di isolasi dan dijadikan pusat perhatian. Tanpa simbolisme, hidup manusia akan terkurung dalam batas-batas kebutuhan biologis dan kebutuhan praktisnya.

Herakleitos menyatakan tak ada sesuatu di dunia yang dapat di ukur. Ukuran merupakan pembatasan menurut ruang dan waktu. Tipe-tipe pengalaman ruang dan waktu ada dua. Pertama, ruang dan waktu organis, data inderawi: misalnya anak binatang yang baru lahir sudah peka akan jarak & spasial. Kedua, ruang perseptual yang ideasional dan kompleks. Pada ruang perseptual, kita bisa melihat perbedaan binatang dengan keterampilan bawaan dan manusia yang harus mempelajarinya melalui proses berfikir dalam ruang abstrak yang akan membuka jalan ke arah pengetahuan dan kehidupan budaya.

Menurut Heinz Werner, ruang manusia primitif kurang objektif, terukur, dan abstrak, yang berakar pada hal-hal konkret dan substansial. Mereka tidak akan bisa  merepresentasikan sesuatu hal meskipun mereka hafal akan sesuatu, semata-mata hanya penanganan atas objek, bukan pengetahuan dalam arti abstrak dan teoretis. Astronomi Babilonia berisi semua konsepsi mitologis, religius, dan ilmiah. Otto Neugebauer, menulis tentang aljabar simbolis Babilonia. Pemikiran matematis saat itu masih diliputi suasana mistis. Menurut pengikut Phytagoras angka memiliki misteri dan magi, teori tentang ruang pun saat itu masih menggunakan bahasa mistis.

Kant berpendapat bahwa ruang adalah bentuk pengalaman luar, sedangkan waktu adalah bentuk pengalaman dalam. Tiga modus waktu dalam kehidupan organis: lampau, kini, dan nanti. Organisme tidak pernah menempati saat yang tunggal. Masa kini sarat oleh masa lampau, dan mengandung masa depan. Mneme atau ingatan pada manusia merekam jejak pengalaman masa lalu yang berpengaruh pada reaksinya di masa depan, hal ini tidak berlaku pada binatang. Dalam hal ini, penyadaran akan waktu berhubungan dengan apa yang kita sebut “ruang”. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s