Pengalaman dan Etika Penelitian Etnografi

Pengalaman dan Etika Penelitian Etnografi

Sebuah inti dari penelitian etnografi sebenarnya adalah participant observation yang memerlukan sebuah kesadaran pribadi yang terbangun jika ada keseimbangan antara keakraban (intimacy with) dan jarak (distance from). Hal ini membuat kita mendapatkan pengertian dengan lebih baik. Namun jika tempat yang akan diteliti sulit maka kita akan sulit juga untuk melakukan participant observation.

Penjara menyediakan tempat yang khusus untuk menguji perbatasan dan tipe dari keputusan etnis dalam antropologi. Karena dikotomi sosial dalam penjara dari Goffman, antropolog membutuhkan keputusan kelompok yang akan diidentifikasi, dan untuk menjadi netral sangatlah sulit. Dilema etnis menurut kacamata penulis dalam penelitian dalam penjara (prison research) mengacu dari institusi dasar dan penghuninya.

Ada penjaga yang menjaga perbatasan penjara. Penjaga menganggap pekerjaannya sama seperti pekerjaan lainnya. Setelah waktu kerja mereka habis, kemudian mereka pulang.. Kebanyakan dari penjaga adalah dari rural communities di daerah tersebut. Sebuah komunitas dengan sifat antipasti pada penghuni pada umumnya dan African-American pada khususnya.

Participant observation menuntut sang etnografer bertindak kooperatif dengan semua informan. Kadang kala pada salah satu level, informan telah setuju untuk terlibat dalam penelitian, tapi pada level yang lain ada informan yang tidak setuju. Namun sesungguhnya fieldwork dalam penjara menjadi sebuah tindakan yang lembut (a delicate act) dari diplomasi diantara golongan yang saling bertarung, sebuah kondisi dimana banyak antropolog mungkin saja menemukan ketidakramahan dalam penelitian.

Pendapat penulis ketika ia belajar dalam penjara data yang dikumpulkan sangat bernilai, dan membuat dirinya matang sebagai seorang fieldworker. Keseimbangan yang bagus antara sesuatu yang saling berlawanan antara kelompok sosial (mutually antagonistic social groups) dan keadaan tertekan pada saat melakukan penelitian dibawah level yang berubah-ubah dari kerahasiaan, rumor, dan gosip. Kekikuakan jarak (awkward spaces) dan hubungan yang tidak nyaman dalam penjara yang penulis ceritakan akan dialami seorang antropolog, sebagai sebuah dilema. Antropolog harus menyiapkan diri dan tidak menyerah meskipun pada awalnya terkesan tertutup.

Fernandes menulis tentang kebingungannya tentang konsep cultural relativism dan moral relativism. Menurutnya, ketika kita berempati dan mendengarkan informasi dari informan tanpa mempedulikan perasaan kita, hal itu berbeda dengan ‘taking moral position’. Dengan belajar, dia akhirnya dapat menempatkan dirinya di posisi yang benar dan tidak mencampurkan perasaan pribadinya di dalam penelitian.

Membangun hubungan/rapport yang baik dengan participan adalah hal utama dalam participant observation. Hubungan yang dibangun tersebut dapat didasari oleh beberapa faktor seperti penelitinya sendiri, orang-orang yang bekerja dengannya, topik penelitian, waktu penelitian, dan sebagainya. Terkadang, peneliti membangun hubungan hanya untuk mendapatkan wawancara yang memuaskan dan mendalam tetapi ada juga peneliti yang melakukan penelitian dengan tinggal dalam masyarakat tertetu selama beberapa bulan, dan hal itu mengharuskan membangun long-term relationshipdengan informan, yang mungkin saja dapat berlanjut hingga setelah penelitian selesai. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s