Kekuasaan, Sejarah, & Tindakan, Bab 1 & 4 Tony Rudyansjah

Kekuasaan, Sejarah, & Tindakan, Tony Rudyansjah

Bab 1 & 4

Dalam buku ini, penulis mengkaji hubungan antara historisitas dengn tindakan sosial dalam menggambarkan lanskap budaya dalam Kesultanan Wolio, Sulawesi Tenggara.

Orang Buton percaya akan hal-hal yang berbau mistis atau gaib. Misalnya saja, informan penulis dalam buku ini menceritakan dalam pergi haji bisa menemui keluarga lain, padahal keluarga tersebut jelas-jelas tidak naik haji. Buton penuh dengan misteri, namun jika misteri itu dikeluarkan menjadi haram. Sesuatu hal yang bersifat gaib atau ramalan akan hilang kemanjurannya justru karena hal itu sudah di ungkapkan. Karena sudah diungkapkan, ,maka ,menjadi tidak gaib lagi, dan karena sudah tidak gaib lagi, maka sudah tidak mujarab.

Kesultanan Wolio merupakan suatu entitas mistis yang memiliki kemampuan untuk memasukkan pelbagai hal ke dalam dirinya sebagai suatu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, Kesultanan Wolio dapat dilihat sebagai incorporation, yang memiliki kemampuan bisa menginkorporasikan pelbagai hal ke dalam satu kesatuan yang utuh

Pada upacara pengangkatan Sultan yang baru di Wolio, terdapat glorifikasi diri sultan melalui hal-hal yang bersifat mistis. Pelbagai hal yang mistis dalam upacara tersebut bukam suatu kebetulan, melainkan dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Pertama, sultan yang dicalonkan harus lolos proses penyaringan yang disebut afalia (difirasatkan kebaikan atau keburukannya) melalui petunjuk yang didapat dalam penggunaan kitab suci Al-Qur’an. Kedua, saat upacara pemutaran payung kemuliaan di atas kepala calon sultan terpilih di dalam Masjid Agung Keraton.

Perspektif semiotik Charles S. Pierce berkenaan dengan pemaknaan dengan tiga cara dapat dilihat dalam pembahasan orang Buton. Cara pertama melalui index, yang mendasarkan pemaknaanya melalui kontak langsung yang pernah terwujud. Cara kedua melaui ‘pointing’ atau icon yang berdasarkan pada kemiripan. Sedangkan cara yang ketiga adalah sebagai simbol yang berdasarkan atas pertalian kultural-historis khusus tertentu.

Bukan hanya physical body sultan yang kemudian diubah dalam upacara menjadi spiritual body atau mystical body, tetapi physical body sultan juga ditransformasikan menjadi territorial body, dan kesemua proses transformasi terwujud sultan itu berlangsung di dalam upacara pengangkatan dan pelantikan sultan. Upacara dalam hal ini merupakan suatu hajatan yang memerlukan banyak biaya dan tenaga dan meruapakan suatu “gawe besar” bersama.

Adat menempati posisis teratas. Adat merupakan sesuatu yang sangat berharga dan harus “dibesarkan”, “dirawat”, dan “dijaga” dengan hati-hati. Seperti telah dijabarkan dalam buku ini, Pau merupakan keberdaulatan diri, sultan selalu dikaitkan dengan adat, dimana adat merupakan keberdaulatan diri. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s