Agama dalam Teori Primitive Classification Marcell Mauss dan Emile Durkheim

Agama dalam Teori Primitive Classification

Marcell Mauss dan Emile Durkheim

Marcel Mauss merupakan keponakan dari Emile Durkheim yang sangat terpengaruh oleh pandangan-pandangannya mengenai masyarakat. Mauss meneliti tentang kehidupan Eskimo meskipun dia sendiri belum pernah mengunjunginya, tetapi melalui berbagai literatur yang ada. Mauss melihat ritual-ritual yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Eskimo yang ia bagi dalam morfologi musim panas dam morfologi musim dingin. Menurut Mauss, apa yang mereka lakukan mempererat integrasi di antara mereka.

Emile Durkheim merupakan pencetus sosiologi modern asal Prancis. Durkheim diingat karyanya tentang masyarakat primitif (non Barat) dan esainya Klasifikasi Primitif bersama Mauss. Durkheim meneliti peranan agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat yang sangat mekanis.

Apa hubungannya dengan fakta sosial?

Durkheim berpendapat bahwa subyek kajian sosiologi harus dipersempit pada sebuah bidang yang dapat diuraikan guna membedakan sosiologi dengan studi sosial yang lain. Untuk itu, Durkheim mengusulkan bahwa harus membatasi sosiologi pada kajian analisis tentang fakta social yang ia jelaskan dalam dua cara.

Definisi pertama yang ia berikan pada fakta sosial adalah setiap cara atau arah tindakan yang mampu menggerakkan pada individu dari tekanan eksternal, seperti sistem keuangan, bahasa, dan tindakan yang lain. Kemudian ia menambahkan, setiap tindakan umum di dalam masyarakat. Hal tersebut meliputi institusi agama, tradisi kultural, dan kebiasaan regional. Durkheim dalam definisi di ini menggunakan paksaan sosial untuk mengidentifikasi alasan di balik tindakan-tindakan yang kemudian menjadi fakta sosial. Tingkat paksaan tersebut akan terasa berbeda-beda. Paksaan sosial ini memegang kekuatan yang memaksa di atas individu.

Definisi kedua Durkheim mengenai fakta sosial mengambil pendekatan yang lebih umum terhadap fakta sosial. Ini mengacu pada berbagai tindakan atau pandangan umum di dalam masyarakat sepanjang memenuhi ketentuan bahwa fakta tersebut jelas-jelas tidak tergantung pada individu. Fenomena tersebut juga mempunyai efek yang memaksa.

Apa hubungannya dengan agama?

Emile Durkheim sebagai salah seorang Sosiolog abad ke-19, menemukan hakikat agama yang pada fungsinya sebagai sumber dan pembentuk solidaritas mekanis. Ia berpendapat bahwa agama adalah suatu pranata yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengikat individu menjadi satu-kesatuan melalui pembentukan sistem kepercayaan dan ritus. Melalui simbol-simbol yang sifatnya suci. Agama mengikat orang-orang kedalam berbagai kelompok masyarakat yang terikat satu kesamaan. Durkheim membedakan antara solidaritas mekanis dengan solidaritas organis. Dengan konsep ini ia membedakan wujud masyarakat modern dan masyarakat tradisional. Ide tentang masyarakat adalah jiwa dari agama. Berangkat dari kajiannya tentang paham totemisme masyarakat primitif di Australia, Durkheim berkesimpulan bahwa bentuk-bentuk dasar agama meliputi :

1. Pemisahan antara `yang suci’ dan `yang profane’

2. Permulaan cerita-cerita tentang dewa-dewa

3. Macam-macam bentuk ritual.

Menurut teori Durkheim, Agama bukanlah `sesuatu yang di luar’, tetapi `ada di dalam masyarakat’ itu sendiri, agama terbatas hanya pada seruan kelompok untuk tujuan menjaga kelebihan-kelebihan khusus kelompok tersebut. Oleh karena itu, agama dengan syariatnya tidak mungkin berhubungan dengan seluruh manusia. Kritikan lain yang dikemukakan oleh Emile Durkheim; bahwa Animisme dan Fetishisme yang bersifat individualistik, tidak dapat menjelaskan agama sebagai sebuah fenomena sosial dan kelompok.

Menurut Durkheim, Intelektualisme yang meyakini bahwa jelmaan pertama kali agama dalam bentuk kelompok adalah ritual nenek moyang, yang menyembah para ruh nenek moyang mereka. Kedudukan agama di sini sama dengan kedudukan kekerabatan, kesukuan, dan komunitas-komunitas lain yang masih diikat dengan nilai-nilai primordial. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

One response to “Agama dalam Teori Primitive Classification Marcell Mauss dan Emile Durkheim

  1. Kalimat “Menurut teori Durkheim, Agama bukanlah `sesuatu yang di luar’, tetapi `ada di dalam masyarakat’ itu sendiri, agama terbatas hanya pada seruan kelompok untuk tujuan menjaga kelebihan-kelebihan khusus kelompok tersebut. Oleh karena itu, agama dengan syariatnya tidak mungkin berhubungan dengan seluruh manusia.” mengambil dari buku apa dan halaman berapa Mbak …………….. ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s