Kelemahan Pendekatan Marxisme dari Sudut Pandang Gramsci

Pendekatan Marxisme klasik memperlihatkan bahwa Struktur Dasar (base structure) berdialektika mempengaruhi super-structure (ideology). Pendekatan ini juga melihat bahwa relasi-relasi sosial selalu ada dalam rantai produksi yang membuat masyarakat terbagi menjadi berdasarkan kelas sosial. Antonio Gramsci menganggap bahwa pendekatan Marx Klasik dalam memahami ideologi dengan cara di atas memiliki kelemahan. Apa yang dimaksudkan oleh Gramsci? Lalu apa manfaat mempelajari Gramsci bagi antropologi?

Penjelasan

Marx adalah tokoh pencetus teori konflik kelas. Dia menulis dan berpikir bahwa di dunia ini ada struktur yang dominan, terkait dengan ekonomi kapitalisme. Dalam teori antar kelas, masyarakat di bagi menjadi dua kelas. Kelas pertama adalah pemilik modal atau kaum borjuis, dan kelas kedua adalah pekerja atau kaum proletar. Kelas pertama, atau kelas yang lebih atas mengambil keuntungan dari kelas bawah atau kelas buruh. Pembagian kelas ini menciptakan ketidakadilan, karena kelas buruh ditekan oleh relasi-relasi sosial yang melibatkan power dan terindoktrinasi oleh ideologi dan agama yang ditanamkan oleh kelas pemilik modal.

Teori sejarah oleh Marx disebut dengan dialectical materialism. Ada tiga prinsip teori marx, yaitu productive forces (sumber daya alam dan teknologi), mode of production (sistem ekonomi), dan ideological superstructure (government, law, politics, religion, art, etc). Disini material menjadi sangat penting dan hanya melalui itulah terjadi dialektika dalam sejarah termasuk perubahan-perubahan dalam masyarakat. Perubahan sosial terkait dengan sarana-sarana fisik yang kongkret berkaitan dengan alat-alat produksi kasat mata seperti pabrik, mesin-mesin dan teknologi yang terus berkembang secara positif sebagai base structure.

Marx membentuk sebuah ideologi untuk membangun kesadaran kelas. Dia mengaktualisasikan ‘kesadaran palsu’ pada rakyat lewat usaha terus-menerus secara hegemonis sehingga kelas buruh percaya bahwa ketertindasan merupakan hal alamiah. Ideologi adalah cara-cara ‘kotor’untuk mengamankan kekuasaan yang berhubungan penuh dengan eksploitasi tenaga manusia berkelas buruh yang berjumlah mayoritas demi akumulasi modal segelintir pemilik modal.

Kemudian muncullah sebuah revolusi, yang didasari oleh kesadaran kelas proletar atau buruh yang tertutup oleh ideologi dominan kaum pemilik modal (Kapitalis). Kesadaran Kelas perlu dibangkitkan dengan memutuskan rantai hubungan sosial produksi antara dua kelas. Dengan cara merebut kembali base structure yaitu teknologi alat-alat produksi, maka kelas proletar tidak terlalu bergantung terhadap pemilik modal. Kenyataannya revolusi yang dinanti ini tidak pernah terjadi.

Muncullah Antonio Gramsci, yang menyatakan bahwa superstructure lebih penting. Tidak seperti Marx, Gramsci memfokuskan perhatiannya pada superstructure  atau tataran ideologis dalam ‘membaca’ pemikiran Marx. Dia menganggap pemahaman ideologi berdasarkan cara Marx memiliki kelemahan. Meskipun benar bahwa base structure dan superstructure saling tergantung satu sama lain, namun relasi antara keduanya bukanlah sesederhana hubungan ‘sebab-akibat’ melainkan dialektis, interaktif dan mediatif (Ransome, 1992:18 & 21). Dia membagi hegemoni ke dalam tiga kategori. Pertama, hegemoni sebagai koreksi terhadap Ideologi. Hegemoni dalam pengertian Gramsci dapat didefinisikan sebagai prinsip-prinsip yang mengatur yang disebarkan melalui proses sosialisasi dalam setiap jengkal kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip pengaturan masyarakat ini sebetulnya bersifat politis dan berupa kemauan penguasa (rezim) untuk membuat masyarakat hidup teratur. Kata hegemoni sendiri diadopsi Gramsci dari istilah politik-revolusioner, dari bahasa Rusia “gegemoniya” yang sering digunakan oleh Lenin yang kurang lebih berarti kekuasaan yang mengikat.

Kedua, hegemoni dan common sense. Prinsip pengaturan masyarakat yang isinya adalah moralitas, dogma politis dan kebudayaan milik penguasa ditanamkan ke dalam pikiran rakyatnya dan sebagai sebuah ‘konfigurasi kognitif’ dia haruslah hadir dalam bentuk yang mudah diterima sehingga ‘paksaan’ untuk hidup teratur itu dirasakan sebagai sesuatu yang alami (Boggs, 1976:39). Durkheim mengatakan bahwa masyarakat dapat hidup teratur karena adanya fakta sosial (social fact) yang bersifat memaksa. Sedikit banyak Gramsci mirip dengan Durkheim ketika melihat pemaksaan sosial sebagai sesuatu yang diterima lumrah dan tak disadari.

Ketiga, hegemoni dan leadership. Di satu sisi hegemoni adalah paksaan yang melibatkan kekerasan (coercion) namun di sisi lain ia bersifat kultural dan persuasif atau dengan kata lain memiliki wajah intelektual. Dia diciptakan dan dirumuskan oleh intelektual-intelektual yang berada di jantung rezim yang artinya harus memiliki leadership yang secara efektif mempertahankan keteraturan sosial (social order) dari titik-titik kritis kehancuran (social disorder) (Ransome, 1992:136). Hegemoni baru bisa berhasil bila dapat menciptakan apa yang disebut Gramsci sebagai voluntary effect (efek sukarela) atau dengan kata lain haruslah ada tingkat penerimaan (level of consensual acceptance) yang tinggi dari masyarakat. Jadi, Keberhasilan Kapitalisme tidak terlepas dari adanya kesukarelaan dan penerimaan dari Kelas Buruh. Hegemoni yang kuat harus dilihat sebagai positif.

Ketiga konsep hegemoni tersebut memperlihatkan bagaimana kritik Gramsci terhadap pendekatan Marxisme, yang menurutnya memiliki kelemahan. Hegemoni menurut Gramsci muncul akibat ketidakpuasannya dengan Marxisme yang hanya membahas suatu teori tentang kelas-kelas yang ditentukan secara ekonomi dan tindakan mereka. Menurut Gramsci, usaha kelompok dogmatis untuk mengubah marxisme menjadi suatu skema ilmiah yang mekanistis, deterministis, dan positivistic menyebabkan suatu penekanan yang berlebihan terhadap bidang ekonomi dan analisis kelas yang diderivasi dalam bidang tersebut yang berkaitan dengan “hubungan dengan sarana produksi” (Bocock, t.t: 37). Bagi dia ada aspek-aspek lain juga yang mempengaruhi ideologi, seperti negara dan politik.

            Manfaat yang didapatkan bagi antropologi dalam memperlajari Gramsci adalah dalam memahami sebuah kebudayaan. Bagaimana ideologi hegemoni dapat membentuk dan mempengaruhi alam pikir masyarakat. Pemikiran Gramsci dahulu berbeda dengan pemikiran para antropolog mengenai kebudayaan. Dalam mendefinisikan objeknya yang berada di dunia ‘lain’ antropologi harus memperhatikan dua kecenderungan yang diperhatikan oleh Gramsci, pertama, kecenderungan untuk memperlakukan dunia sebagai suatu keutuhan yang lebih besar dari politik, ekonomi dan konteks sosial; kedua, kecenderungan untuk merayakan dan meromantisir mereka (Crehan, 2002:4). Kedua kecenderungan ini dapat membuat antropologi sadar bahwa non-Barat dan dunia non-Kapitalis harus ditanggapi dengan serius dan tidak hanya dinilai dalam sebagai bagian yang ‘kurang’.

Hal baru yang didapati antropologi dari adanya penelitian Gramsci adalah pentingnya untuk menelitia kelompok atau kelas bawah pula. Kelas bawah ini kenyataannya tidak homogen, mereka memiliki hirarki tersendiri. Tidak dapat diasumsikan bahwa seluruh anggota tertentu melihat kelas bawah dengan cara yang sama. Gramsci menyadari bahwa betapapun terisolasi dan terpencil sebuah masyarakat, sebenarnya di dalam mereka tercipta heterogenitas. Pengakaran mereka meningkatkan pertanyaan tentang apa kerangka analisis kita harus digunakan untuk memahami yang lain, yang sering terpinggirkan. Dengan itu antropologi dapat mempelajari kebudayaan dengan melihat beberapa aspek yang ada, tidak hanya yang menonjol saja. Kebudayaan itu bersifat kompleks, tidak bisa disimpulkan menjadi satu kesamaan dengan budaya yang dekat dengannya.

Menyadari bahwa kompleksitas suatu budaya melibatkan kekuasaan dalam segala operasinya adakah suatu cara pandang yang lebih kritis dibandingkan dengan hanya memahaminya sebagai sistem simbolis yang netral dan taken for granted. Konsep kebudayaan  yang dulunya dianggap cukup memuaskan sebagai alat analisis  ternyata menjadi sangat naif hanya karena kekurangan kosa-kata untuk bisa menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja, direproduksi dan berkaitan dengan elemen politis yang rumit sekaligus nyata efeknya itu. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s