Antropologi dan Sejarah

Antropologi dan sejarah di dalamnya berisi berbagai pandangan tentang pengertian sejarah dan penjelasan budaya. Berbagai tokoh ahli mempunyai penjelasan yang berbeda.

Frans Boas

Menganut aliran historis particularis. Menurut pendapatnya sejarah mengacu pada proses-proses dinamik yang terjadi  dalam kurun waktu tertentu. Historis dalam hal ini walaupun dipengaruhi oleh hal yang tidak ada kaitannya dengan dinamika masyarakat itu sendiri. Kebudayaan hanya dapat dipahami sebagai hasil perkembangan sejarah (historical growth). Rangkaian unik apa yang menjadikan situasi budaya yang dapat ditemui saat ini. Tetapi masalahnya bila sebuah kejadian dikatakan “unik”, maka kejadian tersebut tidak dapat dipahami dengan mengacu pada kejadian-kejadian yang berada dalam kategori yang sama. Selain itu, data yang diperlukan tidak selalu dapat diperoleh.

Oleh karena itu, menurut Frans Boas, perlu data dari “science” yang melihat keserupaan dan keteraturan dalam proses-proses yang berlangsung. Sejarah memperlihatkan apa yang dihadapi oleh suatu kebudayaan pada waktu-waktu tertentu, tetapi tidak memperlihatkan bagaimana semua itu diterima atau dimodifikasi. Sejarah adalah necessary condition untuk penjelasan budaya, tetapi tidak berupa sufficient condition. Penjelasan budaya terdiri dari history dan science.

Lesli White

Menganut aliran evolusi universal. Menurutnya, sejarah memerhatikan kejadian-kejadian dari aspek waktu (kronologi). Penjelasan budaya menyangkut 3 hal :

1.      Analisis evolusi, yang dilakukan bila perhatian ada pada kemunculan bentuk-bentuk (forms) baru dari yang lama. Misalnya pendapat yang mengacu pada Marcel Mauss dan Emile Durkheim, aliran strukturalis, tentang bagaimana masyarakat muncul dari kepercayaan terhadap totem, kategori-kategori yang muncul dari kepercayaan.

2.      Analisis formal-fungsional, yang dilakukan bila ingin mempelajari proses dan struktur, yang satu mendukung atau mempengaruhi yang lainnya. Misalnya hubungan antara peran dan status antar pranata.

3.      Analisis sejarah, yang dilakukan bila perhatian ada pada kemunculan satu kejadian, pihak-pihak yang berperan.

Semua bentuk analisis adalah perlu (necessary condition) dalam penjelasan budaya. Lesli White ingin mengetahui semua evolusi masyarakat di dunia (universal evolution).

Alfred L. Kroeber

Menurut pendapat Kroeber, perhatian sejarah bukan pada urutan-urutan kejadian dalam kurun waktu, melainkan pada “descriptive integratiom”, yakni setiap gejala diperlakukan utuh, tidak dipilah-pilah sebagaimana dapat dilakukan oleh ”science” yang positivist. Misalnya dalam penelitian survey, pertanyaan dari permasalahan penelitian, variabelnya, sudah ditentukan peneliti sebelumnya. Seharusnya kita tidak fokus pada sesuatu yang kita anggap penting, padahal oleh masyarakat tidak penting, dan yang penting menurut mereka tidak tercakup dalam penelitian kita.

Kroeber menggunakan pendekatan konfigurasi, yang dalam penelitian kita menemukan susunan-susunan kejadian yang merupakan manifestasi sebuah tatanan atau sebuah kode. Filsafat, dalam melihat sesuatu dengan menggunakan hubungan sebab akibat, yaitu suatu kejadian terjadi karena sebab peristiwa yang lain. Kroeber tidak melihat urutan kejadian, tetapi utuh, dan dilihat kaitannya dengan kejadian lain. Hubungan analisis sejarah bertujuan untuk menemukan pola-pola. Misalnya saja seorang pemimpin yang naik tahta pada waktu krisis dan menimbun kekayaan, kemudian diminta turun dan pada akhirnya rakyat sendiri yang kebingungan karena terjadi kekosongan kekuasaan. Hal tersebut merupakan konfigurasi kejadian, tidak hanya terjadi pada satu negara, tetapi pada masyarakat manapun.

Pandangan mengenai sejarah :

  1. Rangkaian kejadian yang unik, yang harus di ungkap untuk setiap kasus yang dikaji, sejarah tidak memberikan keseluruhan penjelasan, tetapi harus dilengkapi.
  2. Rangkaian kejadian, tetapi tidak harus terkait dengan urutan waktu. Sejarah adalah upaya mempertalikan berbagai kejadian sehingga tampak pola atau sistem. Descriptive integration merupakan tujuan tersendiri.
  3. Kejadian-kejadian yang berulang-ulang.
  4. Tidak relevan, tidak sesuai dengan antropologi. Misalnya pendekatan kognitif, aspek sejarah tidak ada sama sekali yang penting analisis kategorisasi manusia.
(Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s