Pesona Maha Dahsyat Alam dan Kebudayaan Tana Toraja

Alam Tana Toraja

Pesona itu bernama Tana Toraja. Tempat ini sebagai tanah para raja. Tana Toraja terletak dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, ibu kota Makale. Letaknya kurang lebih 328 km dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar. Tana Toraja masuk ke dalam area pegunungan bagian tengah dengan ketinggian 300 s.d 2880 meter di atas permukaan laut. Tempat ini memadukan kesegaran dan kesejukan. Suhu udara yang berkisar 16 s.d 28 derajat Celcius menyajikan suasana yang pas untuk beristirahat dan memulihkan kesehatan. Sawah-sawah terasering hijau, tumbuh-tumbuhan dan rumpun-rumpun bambu dilatarbelakangi oleh gugusan karst serta dibawah atap birunya langit. Tongkonan, yang merupakan rumah-rumah tradisional Tana Toraja, menyajikan komposisi yang indah melengkapi pemandangan mahadahsyat.

Peta Tana Toraja

Peta Tana Toraja (indonesia-tourism.com)

Budaya Tana Toraja

Orang Toraja

Budaya nenek moyang manusia Toraja terbentuk dengan latar belakang suatu sistem religi atau agama suku yang oleh masyarakat Toraja disebut PARANDANGAN ADA’ (harfiah: Dasar Ajaran/Peradaban) atau ALUK TO DOLO. ALUK TO DOLO percaya satu dewa yaitu PUANG MATUA. Di samping itu dikenal juga DEATA (dewa-dewa) yang berdiam di alam, yang dapat mendatangkan kebaikan maupun malapetaka, tergantung perilaku manusia terhadapnya.

Semua aktifitas manusia memiliki nilai sakral mulai dari persoalan tidur sampai membangun rumah. Demikian halnya keberadaan manusia dari lahir sampai mati, aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol yang berhubungan dengan kesakralan itu selalu mengiringi keberadaan manusia Toraja. Aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol itu menghubungkan manusia secara khas dengan tatanan faktual, baik dengan yang ilahi, maupun dengan sesama manusia dan alam. Kepercayaan inilah yang membentuk pandangan hidup manusia Toraja dan menjadi budaya yang melekat dengan begitu kuatnya. Petunjuk nenek moyang tetap menjadi pegangan, masyarakat lebih takut melanggar pamali (pantangan yang diajarkan budaya). Mereka taat kepada pemuka adat dan pelanggaran terhadap pamali akan langsung berhadapan dengan nasib buruk.

Dalam budaya nenek moyang manusia Toraja, ada stratifikasi sosial yang cukup menonjol. Ketika perbudakan masih berlaku di Toraja, dikenal golong puang (penguasa, tuan) dan kaunan (budak). Pada zaman kolonial hal itu dilarang, namun dalam prakteknya, masyarakat adat Toraja tetap membedakan empat kasta dalam masyarakat yang diurut dari yang tertinggi yaitu TANA’ BULAAN (Keturunan Raja. Bulaan artinya Emas); TANA’ BASSI (Keturunan bangsawan. Bassi artinya Besi); TANA’ KARURUNG (Bukan bangsawan, tetapi bukan juga manusia kebanyakan. Karurung adalah sejenis kayu yang keras); dan yang terendah adalah TANA’ KUA-KUA (kua-kua, sejenis kayu yang rapuh). Dalam hubungan dengan upacara-upacara adat, dikenal pula golongan imam (to minaa atau to parenge’) dan manusia awam (to buda).

Semangat kebersamaan manusia Toraja yang terkenal dengan SEMBOYAN MISA’ KADA DI POTUO PANTAN KADA DI PO MATE (artinya kurang lebih sama dengan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Ini tercermin dalam salah satu upacara adat Toraja yaitu upacara pemakaman (RAMBU SOLO). Dari luar kita bisa melihat adanya nilai budaya yang besar dalam
upacara ini. Ada pondok-pondok yang dirikan secara gotong-royong. Hewan kurban (kerbau dan babi) disiapkan untuk menjamu tetamu yang datang sekaligus simbol penghargaan kepada yang meninggal. Setelah itu sanak famili dan kenalan mengungkapkan tanda duka cita melalui kehadiran dalam upacara itu sekaligus membawa babi atau kerbau sebagai tanda simpati. Pada akhir pesta biasanya 3 sampai 4 hari, ada juga hewan kurban yang disisihkan untuk disumbangkan kepada tempat ibadat.

Martabat di mata masyarakat dijunjung tinggi. Keluarga mempersiapkan pesta dengan hewan kurban sebanyak mungkin. Sementara itu, sumbangan duka cita (dalam bentuk hewan kurban) yang dibawa famili yang lain atau kenalan, dianggap sebagai hutang. Jika sekali waktu kenalan tersebut menggelar upacara yang sama, maka mau tidak mau hutang itu harus
dibayar. Jika tidak, harga diri menjadi taruhan. Tidak ada orang Tana Toraja yang tidak memiliki kebanggaan terhadap tradisi budaya serta keindahan panorama alam yang dimilikinya. Sebuah komposisi kemahadahsyatan semesta. Tana Toraja juga tercermin pada penduduknya. Walaupun mereka sudah menganut agama Kristen atau pun Muslim, masih ada yang menggabungkan kepercayaan agama-agama itu dengan kepercayaan peninggalan nenek moyang yang kadang kala berbau mistis. Dengan identitas etnis yang dimiliki, orang Toraja dengan senang hati menyambut siapa saja yang ingin menyaksikan kebudayaan mereka.

Tongkonan

Tongkonan merupakan rumah adat orang Toraja. Sebuah rumah dengan dekorasi unik. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan sendiri digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (strata sosial masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (bangah), saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara. Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial orang Toraja. Tongkonan berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja.

Pemukiman di Tana Toraja

Pemukiman di Tana Toraja dengan pemandangan alam yang indah (tumblr.com)

Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan orang Toraja. Semua anggota keluarga diharuskan ikut serta dalam ritual yang berhubungan dengan tongkonan sebab hal ini melambangkan sebuah hubungan lintas dimensi antara orang hidup dan yang telah meninggal. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar. Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat “pemerintahan”. Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal. Tongkonan batu adalah untuk anggota keluarga biasa.

Saat ini, pemukiman tradisional orang Toraja telah dinominasikan sebagai salah satu warisan dunia. Amazing, sebagai orang Indonesia, bangga sekali ada salah satu kebudayaan dari bangsa ini yang menjadi warisan budaya dunia. Sangatlah merugi kalau kita belum pernah melihat secara langsung.

Aluk Todolo

Aluk Todolo memiliki arti ‘kepercayaan orang-orang tua’ atau ‘ritual nenek moyang’, dimana didalamnya terdapat banyak sekali mitos serta ritual kuno. Menurut kosmologi Aluk Todolo, dunia terdiri dari 2 bagian, yaitu: dunia atas dan dunia bawah. Pada mulanya surga dan bumi menikah, dan dari hasil pernikahan itu terciptalah kegelapan. Tak lama kemudian, terjadilah perpisahan dan terciptalah cahaya. Dari pernikahan itu, lahir pula beberapa dewa/tuhan dalam konsep Aluk Todolo. Beberapa dewa utama yang disembah adalah:

  • Puang Matua, sang dewa utama dan penguasa surga.
  • Pong Banggai di Rante merupakan dewa bumi.
  • Pong Tulak Padang bertugas untuk membawa bumi dalam telapak tangannya, dan bersama-sama dengan Puang Matua menjaga keseimbangan bumi, serta memisahkan antara siang dan malam.

Namun sayang, istri dari Pong Tulak Padang yang bernama Indo’ Ongon-Ongon ternyata memiliki tabiat yang buruk. Ia sering kali menyebabkan gempa bumi dan menganggu keseimbangan bumi. Selain itu, ada satu dewa lagi yang cukup ditakuti. Ia bernama Pong Lalondong, sang penguasa dunia maut yang bertugas untuk mengadili jiwa-jiwa yang telah mati. Dan masih banyak dewa-dewa lainnya yang menempati dunia atas dan dunia bawah. Sementara itu, di bumi juga terdapat makhluk halus dan setan yang berdiam di sungai, pohon, dan batu.
Tugas utama manusia adalah untuk menjaga keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah dengan cara melakukan ritual. Ada 2 garis besar ritual dalam Aluk Todolo, yaitu Rambu Tuka dan Rambu Solo.

Rambu Tuka (matahari terbit).

Ritual ini diasosiasikan dengan arah Utara dan Timur, serta dengan kebahagiaan dan hidup. Yang termasuk dalam ritual ini antara lain adalah ritual untuk kelahiran, pernikahan, kesehatan, rumah, komunitas dan padi. Yang paling penting dalam ritual ini adalah Bua’ dan Merok.

Rambu Solo (matahari terbenam)

Ritual ini diasosiasikan dengan arah Selatan dan Barat, serta dengan kegelapan, malam, dan kematian. Menurut kepercayaan Toraja, apabila seseorang mati, maka ia akan hidup di dunia lain sama seperti di bumi (bersama harta kekayaannya). Oleh karena itu, tidaklah heran apabila dalam upacara kematian, selalu dibarengi dengan pengorbanan beberapa hewan ternak. Karena dipercaya hewan yang dikorbankan tersebut akan ikut melayani majikannya ke alam baka.

Dunia orang mati disebut dengan Puya ‘tanah dari jiwa-jiwa’, yang terletak di bawah bumi sebelah barat laut. Dipercaya apabila pesta kematian dilakukan dengan sangat besar, megah, dan mewah, maka jiwa yang telah meninggal tersebut akan dapat mencapai Puya. Sesampainya di sana, ia akan diadili oleh Pong Lalondong lalu kemudian pergi mendaki gunung untuk mencapai surga. Menurut Aluk Todolo, orang Toraja sebenarnya berasal dari langit. Bahkan bukan hanya manusia yang berasal dari langit. Hewan-hewan seperti ayam, kerbau, hujan, padi, dan kapas juga diturunkan dari langit.

Datu’ Laukku merupakan sosok Adam dalam sistem kepercayaan Toraja. Ia adalah nenek moyang manusia yang diciptakan oleh Puang Matua, dari bahan emas murni dengan perantaraan Sauan Sibarrung. Selama beberapa generasi, Datu’ Laukku dan keturunannya tetap hidup di langit. Sampai pada akhirnya keturunannya yang bernama Pong Bura Langi diturunkan ke bumi. Setelah turun ke bumi, Pong Bura Langi lalu mempunyai anak yang bernama Pong Mula Tau, yang dianggap sebagai manusia pertama. Namun, versi lain mengatakan bahwa Pong Bura Langit tidak turun sendirian. Ada lagi Puang Soloara yang turun di Sasean, Puang Tamboro Langi (Sawerigading) yang turun di Kandora, serta Puang ri Kesu yang turun di Gunung Kesu. Mereka in disebut, “tomanurun di langit”. Ketika turun dari langit, Pong Bura Langi juga turut membawa serta tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan (seperti padi, ubi, dan sebaginya) dan juga hewan ternak. Tak lupa ia juga membawa rumah, budak-budak, dan tatanan hierarki sosial secara utuh. Yang termasuk dalam hal ini adalah para pendeta, yang terdiri dari:

  • Pendeta To Minaa (pendeta ini adalah orang yang tahu tentang sejarah dan seluk-beluk Toraja menurut kepercayaan Aluk Todolo)
  • Pendeta To Buraka
  • Pendeta Padi
  • Pendeta Obat-obatan.

Upacara pemakaman

Upacara pemakaman orang Toraja merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.

Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam “masa tertidur”. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diiringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Ada tiga cara pemakaman: peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa
daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau-tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh. Hmm, kapan lagi melihat pemakaman yang unik dan bernilai milyaran rupiah?

Gua dan Dinding Batu Tempat Penyimpanan Mayat

Salah satu tempat yang tidak boleh lupa dikunjungi saat berwisata ke Tana Toraja adalah gua tempat menyimpan mayat. Kebanyakan dari tempat tersebut berupa gua dan dinding batu yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi mayat. Di Tana Toraja terdapat tempat
pemakaman yang menarik itu dikenal dengan nama Londa, Ke’te Kesu dan Lemo.

Londa

Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Tampat ini terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao.

londa

Londa (travellinginindonesia.com)

Ke’te Kesu

Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja buah tangan. Tempat ini terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.

Ke'te Kesu

Ke’te Kesu (travellinginindonesia.com)

Lemo

Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo, kita dapat melihat mayat yang disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti melalui upacara Ma’ Nene. Cara pemakaman dan perlakuan yang berbeda terhadap orang Toraja yang meninggal ini merupakan hal yang unik dan tidak biasa. Merasa tertantang untuk melihat pemandangang thriller? Ya, siapkan nyali untuk melakukan perjalanan ke tempat ini.

Lemo

Lemo (sulsel.go.id)

Ukiran kayu Toraja

Toraja memiliki sebuah seni mengukir kayu. Setiap panel pada ukiran kayu Toraja melambangkan niat baik. Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan seperti gulma air. Sedangkan motif kepiting dan kecebong melambangkan sebuah kesuburan. Sebuah ukiran kayu Toraja yang terdiri atas 15 panel persegi memiliki arti di setiap panelnya. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.

Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja, selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang
teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris. Wow, benar-benar hebat. Orang Toraja telah mengenal ilmu matematika sejak ratusan tahun lalu. Tertarik melihat dan belajar etnomatematika ala orang Toraja?

Musik dan Tarian

Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma’badong). Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman.

Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma’randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma’randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma’katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. Tarian Ma’akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma’dondan.

Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. Tarian Ma’bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma’gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras. Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma’dandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma’bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma’bua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.

Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa’suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma’bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa’pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.

Lovely December: Menutup Akhir Tahun di Tanah Toraja

Tidak sabar kan menikmati pemandangan alam dan budaya Tana Toraja yang menakjubkan sekaligus mengerikan? Sebuah perjalanan wisata yang menyajikan komposisi yang menyegarakan jiwa dan raga kita. Tempat-tempat serta ritual adat tentu akan membuat kita semakin kagum terhadap kuasa Sang Pencipta. Disamping itu, alam Tana Toraja yang segar tentu akan membersihkan reagen-reagen (racun) akibat polusi kota di tubuh kita. Ayo, rencanakan perjalanan terbaikmu ke Tana Toraja di liburan akhir tahun 2012 ini. Tahun ini, Tana Toraja merupakan tuan rumah dari acara Lovely December: sebuah agenda tahunan dari dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah kabupaten Sulawesi Selatan. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah Kabupaten Tana Toraja menyediakan anggaran sebesar Rp 1 milyar untuk penyelenggaraan acara ini. Anggaran sebesar ini akan digunakan untuk berbagai kegiatan dalam memeriahkan event tahunan yang ditujukan sebagai ajang promosi pariwisata.

Dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Sulawesi Selatan, telah banyak merancang berbagai kegiatan. Berikut ini adalah timeline lengkap acara Lovely December in Toraja 2012:

  • Jelajah Sepeda Wisata tanggal 1 sampai 2 Desember.
  • Rakit Tradisional 5 Desember di Bungin Pantan.
  • Jalan Santai 7 Desember di Makale.
  • Trekking 10 Dessember di Burake Sangngalla.
  • Lomba Mancing 15 Desember di Barereng Kurra.
  • Panjat Tebing 17 Desember di Tana Toraja.
  • Lomba Tangkap Ikan 18 Desember di Makale.
  • Lomba Pohon Natal Hias 20 s.d 25 Desember di sepanjang jalan Poros Salubarani-Rantelemo.
  • Pameran Kuliner dan Kerajinan 20 s.d 31 Desember di Makale.
  • Atraksi Tambahan Pertunjukan Seni dan Budaya dari Kabupatem di Sul-Sel 23 dan 26 Desember di Makale.
  • Parade Busana Toraja 26 Desember di Makale.
  • Saluputti Mamali 26 s.d 29 Desember di Saluputti Ulusalu.
  • Puncak Lovely Desember dan Natal Oikumene 27 Desember di Makale.
  • Reuni Katolik 28 Desember SMA Katolik di Makale.
  • Malam Apresiasi Budaya (MAB II) SSN 29 Desember Lap. Basket di Makale.
  • Pesta Kembang Api dan Tutup Tahun 31 Desember di Plasa Makale.

Serangkaian kegiatan ini merupakan sebuah upaya untuk kembali menggali potensi-potensi lain dari semua elemen masyarakat Toraja. Lovely December di Tanah Toraja akan lebih semarak dari tahun sebelumnya dan pastinya akan lebih banyak lagi menarik perhatian banyak wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara.

Goes to Tana Toraja Now!

Sudah bulatkah tekad untuk menutup akhir tahun di Tana Toraja? Bingung bagaimana membawa diri anda sampai ke Tana Toraja? Ya, saya akan mencoba memberikan Anda petunjuk untuk sampai ke tempai ini. Kita tinggal naik pesawat dengan tujuan Bandara Hassanudin, Makasar. Setelah itu, tujuan selanjutnya adalah terminal Daya yang merupakan pusat kota Makassar. Perjalanan ke tempat ini bisa dengan menggunakan bus, taksi bandara, “pete-pete” (sebuah minivan), ataupun dengan ojek. Bagi anda yang lebih memilih untuk naik taksi, ada beberapa loket taksi yang tersedia, seperti Primkopau, Bosowa, Bandari Avia Mandiri, Lima Muda, dan lain-lain. Lama perjalanan dari bandara ke terminal Daya atau pusat kota Makassar dengan taksi membutuhkan waktu sekitar 20 menit dan biayanya sekitar Rp 36.000. Jika ingin mencoba naik pete-pete, kita harus berjalan keluar dari terminal bandara untuk mencapai jalan utama. Pete-pete hanya Rp 4.000 untuk mencapai terminal Daya (naik jurusan “Maros-Pangkep” atau sebaliknya). Setelah sampai di terminal Daya, untuk mencapai Tana Toraja, kita bisa menyewa mobil ataupun bus. Tiket bus dapat dibeli di kantor operasional, di terminal dan perwakilan-perwakilan bus itu sendiri yang mudah di jangkau di kota Makassar. Bus akan berhenti satu sampai dua kali di beberapa restoran atau rumah makan di sepanjang perjalanan. Bus biasanya mulai berangkat pukul 07.00 WITA hingga pukul 22.00 WITA dari terminal Daya Makassar. Perjalanan ditempuh dalam waktu 6-7 jam. Walaupun menempuh perjalanan darat yang cukup lama, kita tidak perlu khawatir. Jalanan menuju tempat ini memiliki kondisi yang baik. Ditambah lagi, mata kita akan dimanjakan oleh panorama keindahan pemandangan sepanjang jalan (daratan, lautan, dan rute lika-liku dengan landscape pegunungan).

Berikut ini beberapa daftar perusahaan penyedia jasa angkutan bus dari terminal Daya menuju Tana Toraja. Usahakan untuk memesan tiket bus setidaknya satu hari sebelum keberangkatan melalui telepon.

  • Fa Litha. Lokasi: Jl. Pelita No. 97, Makaleatau; Jl. Mappanyukki, Rantepao atau terminal Daya Makassar. Telepon: 0423 22009 (Makale), 0423 21204 (Rantepao), 0411 442263 (Makassar). Menuju Makale atau Rantepao pada pukul 10.00 WITA.
  • New Liman. Lokasi: Jl. Mappanyukki, Rantepao. Telepon: 0423 23767 (Rantepao), 0411 458404 (Makassar). Jam operasional: setiap hari, pukul 09.00—21.30 WITA. Keterangan: semua bus menggunakan AC dan harga tiket sebesar Rp 80.000 dari Rantepao ke Makassar atau sebaliknya. Bus meninggalkan Tana Toraja maupun Makassar pada pukul 07.00 dan 22.00 WITA.
  • Bintang Prima. Lokasi: Rantepao. Telepon: 0423 21142 (Rantepao), 0411 4772888, 581305 (Makassar). Keterangan: tarif bus (non AC/AC) sebesar Rp 80.000.
  • Alam Indah. Lokasi: Jl. Mappanyukki No. 42, Rantepao. Telepon: 0423 21305. Jam operasional: setiap hari, pukul 06.00—21.30 WITA. Keterangan: semua bus dilengkapi dengan AC. Bus pertama yang meninggalkan Rantepao atau Makassar pada pukul 08.30 WITA dan harga tiket sebesar Rp 80.000.

Sebenarnya, dari Bandara Hassanudin, bisa juga menuju Tana Toraja dengan menggunakan pesawat. Tana Toraja memang memiliki lapangan terbang yang disebut Bandara Pongtiku yang terletak di Desa Rantetayo (dekat Makale, Ibukota kabupaten Tana Toraja). Namun sayangnya, akhir-akhir ini tidak ada layanan pesawat regular ke tempat ini. Jika
menggunakan pesawat, umumnya akan memakan waktu sekitar 55 menit (dengan menggunakan pesawat 20 kursi).

Kita juga bisa memilih untuk melakukan perjalanan wisata yang sudah diatur sebelumnya. Ada banyak agen perjalanan di Bandara Hasanuddin. Meskipun lebih mudah dan sederhana, namun biaya yang Anda keluarkan mungkin akan lebih besar. Loket mereka dapat di temukan dengan mudah di area keberangkatan bandara. Beberapa agen perjalanan yang ada yaitu
Himeji, Maha Mega, Orient Celebes, dan Celebes Adventure, yang menjual paket wisata ke Tana Toraja, menyediakan pemandu wisata, pemesanan hotel, pengaturan perjalanan, dan sebagainya. Agen ini tersedia setiap hari pada pukul 09.00—20.00 WITA.

Nah, untuk semakin memotivasi Anda berkunjung ke Tana Toraja, berikut video dari Dinas Pariwisata Tana Toraja.

 

So, are you ready to go to Tana Toraja Now?

See you in Lovely December Event, at lovely place, Tana Toraja.

 

mymakassar.com ( Lomba Konten Blog Lovely Toraja 2012)

 

Kepustakaan

Anggaran Lovely Toraja 2012 1 Milyar,

http://www.visittanatoraja.org/berita/item/76-anggaran-lovely-toraja-2012-rp-1-milyar

(diunduh 5 Desember 2012).

Lovely December in Toraja,

http://www.mymakassar.com/in/event-menarik/event-mendatang/item/482-lovely-desember-in-toraja

(diunduh 5 Desember 2012).

Lovely Toraja, Berkunjung ke Tempat Wisata Toraja,

http://www.mymakassar.com/

(diunduh 5 Desember 2012).

Menuju Tana Toraja,

http://visittanatoraja.org/component/k2/item/79-menuju-tana-toraja

(diunduh 5 Desember 2012).

Tana Toraja: Negerinya Orang Mati yang Hidup,

http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja

(diunduh 5 Desember 2012).

Teisme Manusia Tana Toraja,

http://wongalus.wordpress.com/2009/07/07/teisme-manusia-tana-toraja/
(diunduh 5 Desember 2012).

Mikhail Bakhtin Dialogic Imagination

Mikhail Bakhtin

Berkebangsaan Rusia. Ia beranggapan bahwa kehidupan manusia pada dasarnya merupakan dialog. Kehidupan adalah dialog. Pada dasarnya manusia selalu berdialog dengan the others (diri sendiri, orang lain, dan lingkungan). Dialog terjadi karena berbagai peristiwa dan manusia harus merespon peristiwa tersebut, dan jika tidak merespon maka manusia akan mati. Karena manusia memiliki responsibility dan harus bertanggungjawab pada diri sendiri atas respon tadi. Respon yang didapat dari orang lain dipilih sendiri. Ketika merespon membangun/menjalin kehidupan diri manusia (identitas diri), yang dalam proses ini terjadi arche tektonik (membangun diri sendiri) yang di dalamnya terjadi proses authorship/authoring.

Dialog, Responsibility, Arche tektonik, Authoring

Menurut Bakhtin merajut kehidupan dengan merespon struktur kekuasaan yang sedang operasional dalam diri manusia merupakan kendala yang menghalangi gerak manusia. Ketika proses authoring, manusia mempertimbangkan dirinya sendiri, orang lain, dan kekuasaan yang ditakutkan akan menghambat.

Authority (yang memiliki otoritas) dan authoring (yang menulis). Keduanya mempertimbangkan proses autoriti (kekuasaan) yang berproses di sekelilingnya. Dialog yang terjadi dialog antara self dan other (diri sendiri dan orang lain). Self parameter untuk mengukur ruang dan waktu, yang sepaham dengan pandangan John Locke, yang tidak pernah objektif karena pemahaman manusia sangat kultural. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan Immanuel Kant bahwa ruang dan waktu universal.

Setiap zaman menampilkan ruang dan waktu berbeda, chronotopes-chronotopes yang berbeda (chrono: waktu, topos: ruang). Misalnya karya Pramudya Ananta Toer dan Chairil Anwar dapat terlihat bagaimana manusia mengkonseptualisasikan ruang dan waktu (menganalisa teks), atau contoh lain pada hikayat lama. Menurut Ben Anderson ruang dan waktu hampa (kosong). Bali dan Islam memiliki pemahaman ruang dan waktu yang berbeda. Misalnya pengertian sakral saat upacara sudah dimulai, jika belum di mulai suatu acara maka tempat tersebut belum sakral. Sedangkan di Islam, masjid adalah mesjid, sama dalam ruang dan waktu apapun. Kronotop dalam hal ini mengandung konsepsi pemahaman waktu yang berbeda. Menurut Ben Anderson, rasa rasionalitas abstrak empty time dan empty space. Misalnya konsep nation state yang sangat di konstruksikan oleh penguasa. Sangat abstrak antara yang satu dengan yang lain. Negara mengabstrakan sesuatu yang konkret dengan memangkas atau menghilangkan batas sejarah. Misalnya satu desa Dayak Kalimantan diperbatasan yang masuk dalam negara Indonesia dan Malaysia. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

An Essay Concerning Human Understanding, John Locke

An Essay Concerning Human Understanding, John Locke 

John Locke menentang ide bawaan yang menyatakan bahwa gagasan manusia pada dasarnya sudah ada dari sananya (sang pencipta). Menurutnya ide manusia berkenaan dengan kenyataan selalu diperantarai oleh kata-kata. Antara kenyataan dan pengetahuan tidak langsung tetapi melalui kata (sekarang: simbol). Misalnya orang Yunani dan Romawi yang menyebut bulan sebagai luna (lingkarannya) dan lukna (terangnya). Kognisi manusia melalui kata-kata. Kata-kata jika digunakan untuk diri sendiri tidak terbatas, tetapi jika berlaku umum dan orang lain paham maka harus general sifatnya, di share bersama dan menjadi kebudayaan. Ideas particular menjadi ideas general.

Ide-ide John Locke di anggap bidah/mengancam agamawan karena menurut para agamawan pengetahuan bersifat bawaan, kebenaran harus dikembalikan pada zaman dahulu. Kebenaran datang melalui dia (pemegang kitab), sementara menurut Locke kebenaran bisa datang pada siapa saja. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Hubungan Bahasa, Kognisi, dan Kebudayaan

Kognisi, Bahasa, dan Kebudayaan

Bahasa itu bagian dari kebudayaan ditransmisikan secara turun menurun, bahasa ini merefleksikan proses dan isi kognisi seseorang. Manusia itu di dalam alam kognisinya memiliki kebudayaan dan bahasa itu digunakan untuk melestarikan/mempertahankan kebudayaannya.Kognisi berisi ide, ide berkenaan dengan obyek.

Gagasan seseorang mengenai kursi tidak langsung. Manusia mengetahui obyek datang dari simbol, ide saya berkenaan dengan suatu obyek datang melalui kata (simbol), simbol ini memberi batas pada obyek, batas via ciri-ciri, fungsi, cara pakai. Simbol membatasi apa yang harus kamu lihat, artinya ada proses seleksi di dalamnya.  Simbol mengarahkan dan membatasi apa yang harus seseorang lihat. (contoh, Amrika mendengarkan bunyi tembakan bang, Indonesia  dor, à ini karena pengalaman tidak dialami langsung, melainkan diperantarai simbol, pemaknaannya menimbulkan bahasa).

Hubungan bahasa dengan kognisi: bahasa adalah perantara artikulasi kognisi atau bahasa pembentuk kognisi. Hidup di dunia, liat obyek disekeliling, dapatlah pengalaman, pengalaman itu bentuknya seperti arus air, seperti pantarai, arus air yang belum terpilah-pilah, kemudian pengalaman itu dipilah-pilah, dilabeli, setelah ia mempunyai ide. Obyek diluar sana hubungannya dengan kita itu tidak langsung, melainkan melalui ide, melalui kognisi,

Kognisi: pengertian

Recognition: mengenali

Melalui cognition bisa recognize. Kalo suatu kebudayaan tidak punya term A, ketika dia bertemu dengan obyek A, dia tidak punya pemahaman tentang itu. Ketika Ide sudah dimiliki bersama, disepakati (misal melihat bulan hanya dari aspek terang) ide tersebut kemudian menjadi kebudayaan. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Tetralogi Pramoedya Ananta Toer dalam Materialisme Karl Marx

Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Buku ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangkitan Nasional. Masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis.

Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah.

Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang “Nyai” yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar. Mingke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Anneliesse, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Millema.

Melalui buku ini, Pram menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu secara hidup. Pram, menunjukan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar, dapat mengubah nasib. Seperti di dalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa HBS dan Minke. Bahkan pengetahuan si nyai itu, yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah HBS.

Nyai Ontosoroh adalah figur yang mempunyai pendirian kuat, ulet dan pantang menyerah dalam berjuang, rasional dan mempunyai visi kebangsaan. Nyai Ontosoroh adalah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan, terhadap harga diri sebuah bangsa. Yang cukup menonjol pada naskah Nyai Ontosoroh adalah proses pembangunan karakter berdaulat yang mampu menghadapi dan melawan kekuasaan dengan tanpa mencabik-cabik integritas perorangan maupun kelas. Apalagi proses pembangunan karakter tersebut dikenakan pada konteks sejarah penjajahan, yang masih relevan dalam kajian sosial-budaya masa kini sekalipun.

Tokoh Minke lahir pada 1880, tepat seratus tahun yang lalu jika dihitung sejak terbitnya novel Bumi Manusia (This Earth of Mankind) untuk pertama kali. Minke lahir di era kolonialisme Belanda sedang gencar-gencarnya menyedot kekayaan alam dan tenaga manusia Nusantara, hingga memasuki kurun 300 tahun, dihitung sejak VOC memasuki perairan Batavia dan mendirikan kantor dagang berupa loji yang digunakan sekaligus pangkalan laut.

Van den Bosch dengan programnya yang tersohor: tanam paksa/ cultuurstelsel mulai bergulir pada 1830-an, Belanda usai meraih kemenangan dalam perang Jawa yang lebih termasyhur dengan perang Diponegoro. Program jenius si Bosch demi kejayaan Nederland Raya terus berlanjut dan semakin bervariasi tanaman-tanaman yang dibebankan pada kaum petani pribumi, hingga pada 1870 para petani harus menanami duapuluhlima persen dari lahannya dengan tanaman wajib, berupa vanili, tebu, kayu manis dan sebagainya sesuai permintaan pasar dunia. Dengan latar belakang keadaan pribumi yang tertindas seperti itulah, Pramoedya dalam buku ini mencoba menggelar kejadian di satu pojokan bumi manusia – manusia pribumi Jawa.

Minke memperkenalkan namanya yang unik, layaknya pemuda memasuki masa dewasa. Ia seorang pelajar di HBS Surabaya. Minke pelajar pribumi yang cemerlang hingga usai ujian akhir sekolah kelak di HBS dinobatkan sebagai siswa terpandai nomor satu HBS Surabaya, dan nomor dua untuk seluruh Hindia Belanda. Prestasi siswa pribumi Jawa yang mengagumkan di masa itu. Di masa kekuasaan kolonial itu pribumi belum mungkin menjadi nomor satu seluruh Hindia Belanda.

Tidak semua anak mampu boleh masuk sekolah tinggi, kecuali anak ningrat pribumi, atau anak pejabat pribumi yang boleh belajar di sekolah setingkat HBS. Kekecualian bagi anak totok Belanda dan peranakan yang disamakan dengan totok. Minke masuk HBS dengan dukungan neneknya, bupati Bojonegoro.

Prestasinya dalam jurnalistik dengan nama samaran Max Tolenaar menulis untuk surat kabar di Jawa Timur. Guru sastranya yang liberal dan progresif memuji-mujinya sebagai siswa kebanggaannya selama karirnya sebagai guru sastra. Pribumi menulis untuk surat kabar di jaman itu? Luar biasa di jaman itu. Hal itu dimungkinkan bermodal nama samaran seorang peranakan ia mengumumkan dirinya, karena bagi peranakan masih layak peluang untuk menulis dalam surat kabar.

Hasil penelitian residen Bojonegoro bahwa pribumi punya tingkat intelijensi sama derajat dibanding orang Belanda. Penelitian yang diilhami oleh teori asosiasi Dr. Snouck Hurgronje mempunyai thesis: dapatkah pribumi bersama-sama Belanda memerintah orang pribumi Hindia? Residen Bojonegoro sangat terkesan pada Minke, obyek penelitiannya.

Perbedaan antara orang Belanda dan pribumi; orang Belanda datang sebagai penjajah dan penakluk sedangkan orang pribumi jadi taklukannya. Ketidakadilah berlaku di tanah jajahan manapun, bagi pribumi lebih jelas lagi mengejawantah dalam hukum bertingkat-tingkat yang berlaku di Hindia Belanda. Tingkat tertinggi Belanda totok, di bawahnya timur asing, dan paling bawah adalah pribumi. Pribumi di depan hukum selalu kalah melawan Belanda dan sebaliknya.

Kisah Minke dengan kekasihnya Annelies di seputar kegiatan pabrik gula melibatkan Minke berhadapan dengan hukum yang dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda. Minke masih beruntung berkat previlium previgiatum (kekebalan hukum tingkat tertentu) yang dimilikinya, karena belajar di HBS Minke sederajat anak bupati. Annelies anak seorang administratur pabrik gula, Herman Mallema.

Nyai Ontosoroh alias Sanikem berbangga hati anak gadisnya punya teman seorang pemuda yang belajar di HBS. Bersekolah di HBS berarti setelah lulus nanti akan menduduki jabatan tertentu dalam struktur pemerintah Hindia Belanda, atau meniti jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Hindia Belanda atau di Nederland.

Perjuangan kelas dalam Anak Semua Bangsa 

Anak Semua Bangsa seri kedua tetralogi karya Pulau Buru diawali, “Kepergian Annelies ke Nederland menumpang sebuah kapal laut maskapai KPM. Seorang wanita totok mengawal si sakit Ann dalam kapal yang berlayar dengan kecepatan abad 18. Juga seorang agen Melayu diam-diam mengawal sang dewi. Dan Annelies pun menyadari ada seseorang yang menjaganya dengan baik dan melayani dirinya sebaik mungkin di perjalanan jauh itu.

Annelies belayar dipisahkan dari keluarganya, dari suami dan ibunda tercintanya dengan alasan hak asuh dimiliki oleh saudara tirinya lain ibu yang tinggal di Nederland. Saudara tirinya itu seorang anggota militer Kerajaan Belanda.

Saudara tirinya menjadi pewaris utama harta Herman Mallema yang berada di tangan Nyai Ontosoroh. Annelies tentu tidak mendapat bagian dari warisan itu berdasarkan hukum Belanda. Mengapa Sang saudara tiri itu ngotot ingin memelihara saudara tirinya yang nyata-nyata tidak bakal mengusik warisan itu? Dan pemerintah Nederland maupun Hindia-Belanda membiarkan saja seorang anak dalam keadaan sakit parah dipisahkan dari ibu kandungnya sendiri?

Minke dan Annelies menikah secara Islam. Kepergian Annelies ke luar negeri dipisahkan dari suaminya itu telah didengar oleh penduduk Wonokromo dan Surabaya. Maka mereka terutama orang-orang Madura itu pun mengirimkan sepasukan penduduk tanpa senjata guna menghadang kereta Gubermen yang hendak meninggalkan rumah Nyai Ontosoroh. Pemerintah kolonial Belanda yang kewalahan akhirnya mengirim pasukan khususnya Marsose untuk menindas orang-orang yang memberontak itu.

Pertentangan kelas penguasa (borjuis) melawan kelas rakyat jelata pun (proletar) terjadi. Pertentangan kelas pribumi terjajah melawan kelas bangsa penjajah (imperialis) terjadi.

Feodalisme dalam Jejak Langkah

Siti Sundari aktivis yang seafiliasi dengan Semaoen, dan Mas Marcokartodikromo asisten khusus Redaksi Medan Prijaji yang dipimpin Minke itu semuanya saja menyebarkan opini menghasut massa untuk menentang dominasi kekuasaan kolonial Hindia-Belanda. Mas Marco pernah sekali menulis tajuk yang ngawur sehingga membikin berang pemerintah kolonial – waktu itu Minke sedang dinas luar.

Siti Sundari perawan yang sudah cukup umur untuk menikah dan berumah-tangga ini anak seorang aparat pemerintah berpangkat wedana di Jawa Tengah. Belanda yang halus dibandingkan Orde Baru melalui kepanjangan tangannya berusaha mempengaruhi sang ayah sehingga jabatannya menjadi taruhan dalam kemampuannya sebagai orang tua mengendalikan sepak terjang anak gadisnya yang mendahului jamannya.

Semaoen lain lagi karena dia seorang anak angkat Belanda totok. Jadi tidak mudah untuk mengendalikan sepak-terjangnya yang sudah sampai pada memimpin kaum buruh transportasi kereta api. Di masa orde baru para pejuang muda dalam mendongkel kekuasaan Orde Baru mengumpulkan dan mempengaruhi massa para pekerja pabrik. Buruh pabrik swasta itu merupakan kekuatan proletar seperti dalam teori-teori marxisme sebagai massa kuli yang harus merebut alat produksi. Mereka tidak pernah berusaha merebut pabriknya sendiri akan tetapi rewel untuk minta kenaikan gaji atau mogok dengan tuntutan perbaikan nasib.

Maklumlah sektor semacam buruh kereta api semasa orde baru sangatlah sulit untuk diorganisir dibandingkan buruh pabrik yang merupakan simbol proletar itu. Juga untuk mengadakan rapat terbuka di masa Orde Baru lebih sulit lagi dibandingkan di masa kekuasaan Belanda yang bisa dianggap cukup beradab. Aparat intel Orde Baru demikian canggihnya menjangkau hingga desa terpencil, mirip struktur intel Jepang yang kejam Kenpeitai. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pemerintah kolonial Belanda lebih terbuka untuk pembaruan daripada pemerintah pendudukan Jepang maupun pemerintah Orde Baru. Wajarlah Belanda mampu berkuasa selama tiga setengah abad di Nusantara. Kolonialis Belanda harus menyerahkan kedaulatannya kepada Jepang karena terlibat peperangan sedangkan Orde Baru masih tetap tegak sampai detik ini hanya berubah julukannya menjadi Orde Reformasi yang wataknya sama saja. Bedanya sekarang orang bicara bebas dan menulis bebas asalkan mau bertanggung jawab atas perbuatan dan tulisan sendiri. Dan karena bebas berbicara dan menulis itulah sebagaimana watak aslinya orang Nusantara ialah ngeyel bin ngengkel alias ngotot terus menganggap dirinya yang paling benar. Itulah kelemahannya Pribumi yang baru belajar mengecap kebebasan mengeluarkan isi hati dan isi kepalanya.

Rumah Kaca

130 tahun silam, Pemerintah Kolonial Belanda menggunakan Biro Khusus yang ujungnya terbentuknya gerombolan bebas hukum alias mendapat perlindungan hukum secara klandestin dari pejabat kolonial. Gerakan gerombolan atau organisasi massa tidak resmi ini didalangi oleh oknum tertentu yang berlatar pejabat pemerintah demi kelanggengan kekuasaan kolonial, salah satu kepanjangan tangan Biro Khusus adalah de Zweep. Tugas pokok De Zweep adalah menghadang Pribumi yang berpikiran dan bertindak yang bisa membahayakan tatanan negeri jajahan di seberang lautan. Dalam masa Gubernur Jenderal Idenburg, de Zweep merajalela di Bandung.

Salah satu Pribumi maju di dunia pers dengan membantu rakyat miskin yang tertindas oleh pemerintah yakni Minke menjadi menjadi bulan-bulanan de Zweep yang bertindak berdasarkan perintah pejabat Algemeene Secretarie Pangemanann, De Zweep yang dipimpin Robert Suurhof menyimpan dendam pribadi terhadap Minke.

Ya, de Zweep yang kemudian hari berganti nama lain itulah secara tidak langsung adalah kepanjangan tangan pemerintah kolonial Belanda dalam memberantas pemberontakan para intelektual Pribumi, Minke malang-melintang dalam dunia pers yang tentu saja sulit dihadapi terbuka yakni dengan dasar hukum yang cocok karena itu sudah menyangkut pelanggaran atas kemerdekaan pers,

De Zweep dalam era reformasi ini bermetamorfosa dalam gerombolan baru berbentuk organisasi massa. Organisasi massa yang terdaftar resmi itu selalu hadir di mana ada gerakan komunis mulai tumbuh. Organisasi semacam itu yang cukup banyak jumlahnya juga hadir di tempat-tempat maksiat atau tempat orang menenggak minuman keras. Tampaknya bertindak demikian memang lebih praktis dan efektif langsung ke sasaran, bagi kepentingan oknum tertentu. Organisasi yang mirip gerombolan de Zweep di masa kolonial ini beroperasi layaknya gerombolan yang bertindak tanpa dasar kekuatan hukum alias main hakim sendiri. Dasar alasan hukum agama menjadi tameng untuk segala tindakan di luar hukum mereka, para ormas itu.

Salah satu munas gerombolan itu diadakan di sebuah kota sejuk tidak jauh dari ibukota. Dalam sebuah gedung milik punggawa Partai besar. Apa hubungan partai besar dan gerombolan De Zweep baru itu? Mungkin gerombolan de Zweep baru ini sekadar menyewa gedung atau bisa jadi adalah tukang pukul bagi siapapun yang kuat membayar dan mau mempergunakan keahlian mereka bertindak di luar hukum dengan bertameng gerakan agama tertentu. Tameng hukum agama tertentu memang tepat untuk jaman sekarang, terutama menghadapi gerakan komunis yang memiliki dasar filsafat materialis.

De Zweep di masa kolonial terutama memiliki anggota peranakan Eropa yang anti-pribum, De Zweep modern memiliki anggota penganut agama tertentu. Yang pertama di atas dipergunakan untuk memberantas gerakan rakyat Indonesia yang berusaha merdeka, berusaha bebas dari cengkeraman kekuasaan kolonial. Sedangkan yang kedua dipergunakan untuk memberantas kemaksiatan dan juga gerakan komunis yang berusaha bangkit dari liang kubur, karena dianggap sebuah gerakan yang ingin menumbangkan kekuasaan pemerintah. Tidak hanya kemaksiatan yang diserbu oleh de Zweep modern, juga aliran-aliran lain daripada agama tertentu yang dianggap tidak menjunjung aqidah. Mampukah de Zweep modern membendung kemajuan jaman? membendung sejarah perjuangan kelas? Jadi, para anak wayang bersiap-siaplah bersedia payung sebelum memulai gerakan apapun yang mengusik kekuasaan.

Pengaruh Marxisme-leninisme dalam Kesusastraan Indonesia

Di Indonesia, ajaran marxis ditentang keras oleh pemerintahan pada masa sebelum kemerdekaan dan pada masa Orde Baru. Namun tidak begitu halnya bagi para sastrawan indonesia. Ada banyak karya sastra Indonesia yang memuat ajaran marxis yang berbentuk novel, roman, dan puisi. Pada masa kolonial Belanda, novel-novel yang mengandung ajaran marxis disegel pemerintah dan dianggap sebagai bacaan liar atau bacaan terlarang bagi rakyat. Novel-novel tersebut misalnya Student Hijo karya Mas Marco, Hikayat Kadiroen karya Semaoen, dan sastra peranakan china lainnya seperti Teko jepang, Soe Hoek Gie, dan lainnya. Pada masa pemerintahan Orde baru misalnya novel Putri karya Putu Wijaya, novel-novel Pramoedya Ananta Tour, roman Atheis karya Achdiat K, dan lainnya.

Dalam novel Bumi Manusia memang terlihat adanya kelas-kelas. Novel tersebut berusaha membawa generasi muda ke dalam rangka pemikiran mereka yang merupakan pertentangan kelas.

Kesalahpahaman inilah yang menyebabkan pemikiran-pemikiran Marx dianggap menakutkan oleh semua orang, terutama oleh masyarakat yang memiliki trauma politik akibat komunisme, seperti Indonesia. Padahal sepanjang sejarah sebelumnya, Marx memiliki atribut positif dalam masyarakat, yaitu bapak dan guru sosialisme modern, ekonom, dan sosiolog. Hampir semua pemikiran besar modern bidang ekonomi maupun sosiologi dipengaruhi pemikiran kefilsafatan Marx.

Materialisme pada dasarnya merupakan bentuk yang paling radikal dari paham naturalisme (L. Santoso, dkk, 2006 : 38). Menurut William R. Dennes, seorang naturalis, ketika naturalisme modern berpendirian bahwa apa yang dinamakan kenyataan pasti bersifat kealaman, maka kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah kejadian. Kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan-satuan penyusun kenyataan yang ada, dan senantiasa dapat dialami manusia. Satuan-satuan semacam itulah yang merupakan satu-satunya penyusun dasar bagi segenap hal yang ada (Katsoff, 1992: 216-218). Materialiseme merupakan bentuk naturalisme yang lebih terbatas dan sempit.

Materialisme Karl Marx berpegang teguh pada pendapat bahwa kenyataan benar-benar ada secara objektif, tidak hanya ada dalam ide-ide kesadaran manusia. Karl Marx mengartikan materialisme dialektik sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus, yang memunculkan suatu keadaan akibat adanya pertentangan-pertentangan.

Jadi, dalam filsafat materialisme Marx muncul pemahaman bahwa kenyataan memunculkan kesadaran manusia, yang berarti memunculkan pengetahuan sebagai salah satu bentuk kesadaran. Materi memunculkan ide, dan dunia objektif adalah bahan dasar bagi munculnya pengetahuan manusia. Tanpa materi, maka kesadaran manusia tidak terbentuk, dan tanpa bahan dasar, maka indera manusia tidak memperoleh apa-apa. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Kajian Tubuh dalam Antropologi

Kajian Tubuh dalam Antropologi

Sejak awal abad ke-19, tubuh manusia sudah menjadi aspek yang penting dalam kajian antropologi. Ada empat alasan mengapa tubuh memiliki posisi yang penting dalam antropologi, yaitu:

1)      Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral.

2)      Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?

3)      Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial), yang memberi kontribusi pada studi tubuh.

4)      Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius.

Kajian antropologi terhadap tubuh diawali dengan ketertarikan Foucault, seorang teoritis berkebangsaan Perancis yang membangkitkan kembali minat ahli ilmu sosial untuk meneliti tubuh sebagai bidang kajian yang cukup penting. Setiap bagian tubuh memiliki biografinya sendiri-sendiri, memiliki sejarah kehidupan yang meliputi berbagai episode perubahan dan tindakan-tindakan yang pernah diambil untuk mengendalikan, mengatur, dan bahkan menertibkan setiap gerak-gerik tubuh. Tubuh dibentuk, dikendalikan, dan ditemukan oleh masyarakat. Sebagaimana dikatakan Shiliing (1993: 71), di mata Foucalt dan Goffman tubuh ditentukan oleh struktur sosial yang ada di luar jangkauan individu.

Tubuh manusia harus dapat dipahami sebagai konstruksi sosial yang berubah dan berbeda berdasarkan perbedaan ruang dan waktu. Manajemen dan pengendalian tubuh karenannya sangat terkait pada ukuran-ukuran atau standar nilai yang ada di dalam suatu masyarakat. Batas-batas apa saja yang dapat dilakukan seseorang untuk dapat membicarakan tentang tubuh dan apa saja yang dilakukan seseorang menyangkut dengan tubuhnya merupakan hal yang penting untuk pembahasan. Sebagaimana dikatakan Giddens (1984) dan Turner (1984), tubuh dianggap para ahli sebagai alat yang penting dalam identifikasi sosial. Bukan hanya keberadaan kita di suatu tempat ditentukan oleh ada tidaknya tubuh kita di tempat itu, tetapi juga ciri-ciri tubuh dapat menjadi alat penting di dalam menjelaskan keberadaan seseorang. Oleh karena itu, tubuh menjadi suatu kajian yang menarik bagi antropologi.

Melihat pada alasan ke empat, terkait munculnya hubungan antara tubuh dengan antropologi karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius, ini lah yang menarik untuk dijadikan pembahasan. Hanya dengan melihat tubuhnya saja seorang antropolog sudah dapat mengidentifikasi jenis kelamin dan gender apa yang dimiliki oleh seseorang yang sedang di teliti.

Dalam mengkaji tubuh yang dihubungkan dengan keberadaan manusia dan kebudayaannya, perempuan lah yang selalu menarik dan dijadikan objek kajian. Pengkategorian bentuk tubuh dengan gendernya ini lah yang dapat membantu seorang antropolog. Contohnya saja dalam melihat pola perilaku perempuan dalam bermasyarakat, seorang antropolog dapat melihatnya dari aspek tubuh.

Perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang memperhatikan kecantikan, selalu mengurus dirinya, melakukan perawatan tubuh, dan sebagainya, adalah penyebab dari tubuh perempuan itu sendiri. Tubuh yang ideal adalah bentuk tubuh yang baik di dalam konsep pemikiran masyarakat luas. Tubuh perempuan itu sendiri mengalami perkembangan dan perubahan sesuai zaman. Wanita yang cantik menurut pemikiran orang zaman sekarang adalah wanita yang putih, langsing, rambut hitam panjang, awet muda. Maka banyak bermunculan iklan obat pemutih, pelangsing, awet muda, dan sebagainya. Padahal cantik pada abad pertengahan adalah gemuk, misalnya Monalisa dan Cleopatra, karena pada masa itu tubuh yang gemuk melambangkan kesuburan dan status sosial yang berada. Maka muncullah budaya pemujaan tubuh dan muncul berbagai salon kecantikan dan beauty shop (bahkan sex-shop seperti di Belanda).

Konsepsi bentuk tubuh ideal yang berlaku dimasyarakat ini membuat perilaku perempuan dari masa ke masa pun berubah-ubah. Ada kalanya para perempuan berlomba-lomba membuat dirinya untuk terlihat berisi, lalu ada kalanya pula para perempuan berlomba-lomba untuk membuat dirinya sangat terlihat kurus. Pola tingkah laku perempuan yang berubah-ubah dan dapat dengan mudah dikendalikan ini membentuk gender pada perempuan. Terlihat bagaimana tubuh manusia, khususnya perempuan sangat berhubungan dan beririsan dengan gender perempuan itu sendiri. Antropolog jadi dengan mudahnya mengetahui bagaimana pembentukan pola pikir dan tingkah laku perempuan hanya dengan melihat perkembangan bentuk tubuh perempuan yang berlaku di masyarakat. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)

Antropologi of Women and Antropologi of Gender

Antropologi of Women and Antropologi of Gender

Antropologi wanita yang baru dimulai pada awal tahun 1970-an, muncul akibat sebuah kritik terhadap bias endosentris dalam antropologi ketika mengkaji status perempuan dalam masyarakat. Sebagaimana dikatakan Moore (1998:10-11), masalah pertama yang segera teridentifikasi adalah bias laki-laki, yang terlihat memiliki tiga ‘tingkatan’ bias. Bias pertama adalah bisa yang muncul dari para antropolog, yang membawa ke dalam penelitian mereka berbagai asumsi dan harapan mengenai hubungan antara wanita dan pria serta signifikansi hubungan-hubungan tersebut untuk memahami masyarakat yang lebih luas. Bias kedua adalah bias yang terdapat pada kelompok masyarakat yang sedang diteliti. Lalu bias ketiga terbentuk karena adanya bias yang melekat dalam kebudayaan Barat. Dari ketiga bias yang memunculkan kajian ini, menurut saya bias kedua lah yang paling menarik untuk dijadikan fokus analisis.

Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang memiliki pembatasan-pembatasan tertentu dalam relasi gender yang memperlihatkan kedudukan dan peran laki-laki yang lebih dominan dibanding perempuan. Hal ini didukung oleh Handayani dan Novianto (2004) yang menyatakan bahwa dalam budaya Jawa yang cenderung paternalistik, laki-laki memiliki kedudukan yang istimewa.

Indrawati menambahkan bahwa perempuan Jawa diharapkan dapat menjadi seorang pribadi yang selalu tunduk dan patuh pada kekuasaan laki-laki, yang pada masa dulu terlihat dalam sistem kekuasaan kerajaan Jawa (keraton). Hal ini senada dengan pendapat Widyastuti (2005) yang mengutip Kusujiarti, perempuan Jawa lebih banyak menjadi sasaran ideologi gender yang hegemonik yang menimbulkan subordinasi terhadap perempuan.

Istilah wanita itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wani ditata (berani ditata). Pengertian ini telah mencirikan adanya tuntutan kepasifan pada perempuan Jawa. Selain itu istilah putra mahkota (bukan putri mahkota), kawin paksa, dan babakan pingitan yang diberlakukan kepada perempuan yang akan menikah, ditangkap Widyastuti (2005) sebagai persoalan gender yang dihadapi perempuan Jawa.

Mulai dari awal pemilihan pasangan hidup, laki-laki Jawa biasanya disarankan untuk tidak memilih perempuan yang memiliki status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi. Selanjutnya dalam perkawinan, istilah kanca wingking, yakni bahwa perempuan adalah teman di dapur akan mewarnai kehidupan perkawinan pasutri Jawa. Konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun turut) juga menggambarkan posisi perempuan Jawa yang lemah sebagai seorang istri (Handayani dan Novianto, 2004).

Selain itu bagi masyarakat Jawa, perempuan sejati adalah perempuan yang tetap tampak lembut dan berperan dengan baik di rumah sebagai ibu maupun istri, di dapur maupun di tempat tidur. Masyarakat Jawa berharap perempuannya bersikap dan berperilaku halus, rela menderita, dan setia. Ia diharapkan dapat menerima segala sesuatu bahkan yang terpahit sekalipun.

Berkaitan dengan prinsip hormat, sedapat mungkin perempuan Jawa tidak tampil dalam sektor publik karena secara normatif perempuan tidak boleh melebihi suami. Kalaupun kemungkinan untuk tampil tersedia, perempuan Jawa diharapkan tidak menggunakan kesempatan itu jika dapat mengganggu harmoni kehidupan keluarga. Dalam konteks ini, istri tidak boleh mempermalukan suami. Istri harus selalu menghormati dan menghargai suami, menempatkan suami begitu tinggi, dan memenuhi segala kebutuhan suami.

Namun demikian, ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa sistem bilateral, dan bukan paternalistik, yang justru tampak dalam praktik hidup sehari-hari pada masyarakat Jawa. Sebagian orang menganggap perempuan Jawa memiliki kekuasaan yang tinggi mengingat sumbangannya yang umumnya cukup besar dalam ekonomi keluarga yang dicapai melalui partisipasi aktif mereka dalam kegiatan produktif (Widyastuti, 2005). Handayani & Novianto (2004) juga menyebutkan fungsi istri sebagai manajer rumah tangga justru membuat posisi kontrol perempuan Jawa menjadi lebih kuat.

Selain itu adanya konsep istri sebagai sigaraning nyawa, bukan sekedar konco wingking juga memberikan gambaran posisi yang sejajar dan lebih egaliter terhadap perempuan Jawa (Handayani & Novianto, 2004). Istilah konco wingking pun tidak selalu lebih rendah, tergantung bagaimana perempuan Jawa memaknainya. Sama seperti sutradara yang bekerja di belakang layar dan tidak pernah terlihat dalam filmnya tetapi dapat menentukan jalannya film.

Handayani & Novianto juga berpendapat bahwa perempuan Jawa bukannya tidak memiliki otoritas pribadi. Hanya saja ia harus mencari cara agar kehendaknya terpenuhi tanpa mengacaukan harmoni dengan keluar dari tatanan budaya. Oleh karena itu pengabdian total perempuan Jawa merupakan strategi diplomasi untuk mempunyai otoritas dan mendapatkan apa yang menjadi harapannya. Jadi secara struktur formal, mereka terlihat tidak berpengaruh. Namun secara informal, pengaruh mereka sangat besar. Bahkan lama kelamaan suami yang akan tergantung kepada istrinya terutama secara emosional. Pada posisi inilah, perempuan Jawa akan banyak menentukan keputusan-keputusan dunia publik melalui suaminya.

Selain itu, Indrawati (2002) berpendapat saat ini memang telah terjadi pergeseran kedudukan dan relasi gender masyarakat Jawa. Menurutnya, modernisasi, emansipasi perempuan, dan masuknya pengaruh budaya Barat, telah menggeser pola relasi gender mengarah kepada persamaan derajat dan kedudukan. Sedikit banyak diperkirakan pergeseran pola relasi gender ini dapat pula mempengaruhi kehidupan perkawinan masyarakat Jawa meskipun belum ada penelitian empiris mengenai hal ini.

Dari kenyataan yang ada ini lah, bias kedua sangat mempengaruhi munculnya kajian yang menarik bagi anthropology of women dalam kehidupan masyarakat Jawa. Bagaimana kondisi, peran dan kedudukan perempuan dalam masyarakat Jawa. Dari dalam masyarakat itu sendiri lah yang memunculkan bias ini terjadi, dan menarik untuk dijadikan fokus analisis.

Selain menarik bagi anthropology of women, peran dan kedudukan perempuan dalam masyarakat Jawa juga menarik bagi anthropology of gender. Anthropology of gender tidak hanya membahas mengenai perempuan Jawa saja, tetapi juga hubungan perempuan dengan laki-laki, peran gender dalam membentuk masyarakat, ideologi gender, sistem ekonomi dan struktur politiknya.

Pembagian kerja yang terjadi antara laki-laki dan perempuan didasari oleh pranata perkawinan masyarakat Jawa. Laki-laki yang ‘membeli’ perempuan bisa bebas memberikan tugas apa saja terhadap perempuan. Ada pekerjaan yang identik dengan jenis kelamin pria yang berhubungan dengan ranah publik. Pekerjaan perempuan bertugas untuk merawat dan mengasuh anak, memasak, membersihkan rumah, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ranah domestik.

Sebagaimana dikatakan Sherry B. Ortner (1974:73-74), perempuan dikatakan lebih dekat dengan alam, sedangkan laki-laki lebih dekat dengan kebudayaan. Selain itu juga dapat dilihat bagaimana pengelompokan berdasarkan jenis kelamin ini berdampak terhadap ruang yang diterima, laki-laki ruang publik dan perempuan ruang domestik.

Perempuan Jawa sangat bergantung dengan laki-laki, baik dalam hal memperoleh pasangan hidup maupun hal ekonomi. Ketergantungan tersebut memunculkan sikap perempuan yang lemah dan mudah diatur.  Jika melihat pada pembagian kerja perempuan yang diatur oleh seorang pria, maka kata ketidak-adilan lah yang muncul. Tidak adanya pemberontakan oleh perempuan yang disebabkan ‘pembelian’ pada saat pernikahan juga memunculkan ketidakadilan di dalam kehidupan bermasyarakat di sini.

Perempuan disini sangat merepresentasikan gender perempuan, yaitu feminim yang dinilai memiliki sifat lemah lembut, keibuan, dan sebagainya dianggap tidak memiliki kekuatan yang kuat sehingga mereka bergantung terhadap laki-laki yang lebih memiliki power.

Ideologi gender yang tertanam di masyarakat sangat berpengaruh di dalam kehidupan masyarakat Jawa. Bagaimana posisi perempuan yang diakibatkan oleh sikap yang dibangung sejak kecil berdasarkan jenis kelamin dan gendernya. Perempuan yang feminim dianggap lemah dan mudah diatur oleh para laki-laki. Ironisnya, keluarga dan adat Jawa sendiri lah yang membentuk dan mengkonstruksi pembagian wilayah serta kerja berdasarkan gender ini. Adanya kewajiban dan hak yang berbeda antara laki-laki dan perempuan berdasarkan ideologi gender membuat kedudukan dan peran atas perempuan dan laki-laki pun dibedakan satu sama lain. (Sri Fitri Ana, Antropologi, Universitas Indonesia)